Membangun Karakter dalam Marketing di Era New Wave

“…in the future, people can be popular in 15 minutes…”

-Andy Warhol-

Di era New Wave, tidak dapat di hindari bahwa internet telah menjadi semacam bahasan dan faktor yang umum. Terlebih ketika kehadirannya yang lebih dari sekadar rekreatif namun juga punya manfaat yang positif. Terutama di bidang marketing secara umum.

Cepat Terkenal, Cepat Tenggelam

Kehadiran internet yang dirasa amat bermanfaat ini, terus berkembang hingga dalam beberapa konteks bahasan, internet jadi amat sentral dan berpengaruh. Luar biasanya, pengaruh itu terpolarisasi ke beberapa bidang umum, seperti politik, dimana beberapa kebijakan bisa dipengaruhi oleh dinamika publik di internet dan ekonomi, dimana konsep marketing jadi benar-benar rumit karena konsumen yang kini terkoneksi satu sama lain (networked costumers).

Karena internet pula, testimoni seorang seniman tahun 1960an, Andy Warhol, jadi kenyataan. Dalam waktu yang cukup singkat, seseorang atau sesuatu dapat terkenal melalui beberapa kemungkinan yang disediakan oleh internet itu sendiri. Walaupun dalam waktu yang singkat pula, reputasinya akan hilang begitu saja.

Manusia dan Merek

Perlu untuk diingat, bukan hanya manusia yang dapat menjadi populer melalui internet, melainkan merek/brand juga dapat mendapat reputasi yang cukup baik. Melalui facebook, twitter ataupun fasilitas jejaring social lainnya, kini sarana maya ini dimanfaatkan pula oleh pebisnis dan marketer untuk menyebar pengetahuan tentang merek yang mereka jual. Walaupun, sekali lagi efeknya semu dan cepat hilang.

Lebih jauh, jika kita menghususkan perhatian pada pop marketing, dimana internet hadir sebagai media utama, maka identitas tidak terlalu ditentukan oleh nama atau ‘bungkusnya’ melainkan isi atau konten dari produk itu sendiri (karakter produk)

Karakter, Kunci Ketahanan Reputasi

“..Character is like a tree and reputation like its shadow. The shadow is what we think of it; the tree is the real thing..”

-Abraham Lincoln-

Hermawan Kartajaya sebagai salah satu pakar marketing dunia, dalam salah satu tulisannya memberikan sebuah pandangan bahwa konsep membangun merek (brand building) masih belum cukup untuk bisa menjadikan merek dari produk anda sustainable, namun diperlukan pula proses pembangungan karakter (character building).

Dengan menjadikan merek memiliki karakter, layaknya manusia, merek yang memiliki karakter (apapun itu karakternya) dapat menjadikan reputasinya punya daya ketahanan yang lebih.

Membangun karakter, jauh lebih sulit dibanding sekadar membangun reputasi. Tentunya karakter harus memenuhi criteria yang dapat menjadikannya though, yakni authentic (orisinil), contagious (cepat menular), serta warm (hangat) dimata para costumers.

Lalu bagaimana anda membangun karakter merek anda?

Referensi:

–         Crowd, marketing becomes horizontal, Seth Godin

–         Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter, Hermawan Kartajaya

–         Era Matinya Gaya Pemasaran Lama, Hermawan Kartajaya

Iklan

Perubahan Iklim, Sebuah Momentum Kebangkitan

: analisis sosial atas pengaruh isu perubahan iklim terhadap masyarakat global dan Indonesia

Selama beberapa tahun terakhir, terjadi fenomena alam yang sulit untuk dijelaskan. Bahkan tidak sulit untuk merasakan adanya ketidaksesuaian cuaca dengan musim yang ada, serta temperatur umum yang semakin tinggi menyebabkan kondisi yang sangat tidak nyaman. Anehnya, hal ini pun terjadi secara global hampir di seluruh dunia.

Mungkin benar adanya, bahwa perubahan iklim telah menunjukkan beberapa gejala alaminya. Dalam sebuah jurnal yang dikeluarkan oleh Green Peace mengenai konsep penyelesaian isu perubahan lingkungan berjudul Working for the Climate, dikatakan bahwa isu perubahan lingkungan telah menjadi salah satu isu sentral dari politik internasional. Bahkan dibeberapa negara maju, permasalahan tersebut bisa jadi sangat populer.

Selain itu, dinyatakan pula bahwa pengeksplorasian sumberdaya alam yang berlebih dan business oriented merupakan penyebab utama akselarasi perubahan iklim. Permasalahan ini menjadi lebih kompleks, ketika terjadi selisih paham mengenai perumusan resolusi menghambat perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Apakah dengan penggunaan energi alternatif seperti yang diusulkan oleh beberapa organisasi lingkungan ataukan penggunaan energi nuklir dengan standar ketat seperti yang diusulkan oleh beberapa negara industri maju?[1]

Apapun perkembangan yang terjadi pasti, akselarasi perubahan iklim ini bisa jadi merupakan sebuah akumulasi dari seluruh tindak nonefektif dalam pengelolaan keadaan lingkungan selama ini. Karena iklim yang dahulunya dipahami sebagai sesuatu yang statis, kini telah menjadi begitu dinamis dan tidak dapat diprediksi.

Hilangnya Batasan Ideologi

Sebagai tindak lanjut atas isu tentang perubahan iklim yang terus berkembang secara global, lembaga internasional seperti PBB pun memberikan resolusinya sendiri.

Tergerak dari pembentukan Protocol Kyoto tahun 1997[2], PBB kemudian membentuk United Nations Framework to Convention of Climate Change (UNFCCC) yang dimulai di Nusa Dua, Bali pada akhir 2007 dan akan berlanjut terus dengan pertemuan di Copenhagen, Denmark akhir 2009. Walau kurang memuaskan, yang jelas serangkaian pertemuan tingkat tinggi tersebut telah menjadi bukti bahwa di tingkat internasional masalah mengenai lingkungan sudah menjadi permasalahan yang sangat serius.

Uniknya dalam keanggotaan yang ada, terjadi sebuah integrasi yang sulit dipahami secara politis. Dimana negara-negara yang sedang berseteru ataupun bersebrangan paham mampu menyamakan sikap atas permasalahan lingkungan ini. Dimana negara-negara berideologi kapitalis mampu bersanding dengan negara-negara berideologi sosialis.

Dengan hanya persamaan dari segi platform dalam hal isu lingkungan, seluruh negara anggota konvensi ini mampu melepas sementara identitas ideologis yang ada dan mendukung setiap rencana kebijakan UNFCCC seperti mendukung Clean Development Mechanism (CDM) serta mengkampanyekan Reducing Emission from Deforestation in Developing countries (REDD)[3] walaupun dengan permintaan pelonggaran standar.

Dalam konteks tertentu, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan isu perubahan iklim punya dampak yang sangat signifikan. Mengingat bentuk permasalahan yang ada juga bukan merupakan hal yang biasa terjadi.

Di sinilah peran isu perubahan iklim sebagai musuh bersama (common enemy) telah berfungsi dengan baik, dengan cara menghilangkan batasan dan dikotomi ideologi yang sering menjadi masalah tersendiri. Sebagai pembuktian lain, berbagai gerakan lintasnasional pun banyak yang terbentuk.

Dengan kesamaan gejala di seluruh dunia, dimana kebanyakan anggota-anggota dari gerakan tersebut merupakan anggota masyarakat yang masih berusia muda. Serta, bertambah pesatnya perkembangan beberapa organisasi lintasnegara yang sebelumnya sudah terbentuk. Khususnya dalam hal kuantitas anggota yang sangat besar dan multietnis.

Hal ini tidak dimungkinkan jika tidak adanya konsistensi para aktivis lingkungan dalam mengampanyekan isu lingkungan khususnya isu mengenai perubahan iklim.

Birokrasi Ramah Lingkungan

Di tingkat negara, fenomena akan perubahan sosial juga terjadi. Dimana yang berperan besar dalam kampanye perubahan iklim tidak hanya masyarakat serta aktivis lingkungan, namun kini juga melibatkan pemerintah.

Hal ini menanda dimana birokrasi kini telah berubah dari penghambat dukungan terhadap isu-isu lingkungan menjadi alat untuk mengkampanyekan lingkungan. Walaupun kadang dalam permasalahan lingkungan lain – diluar perubahan iklim –birokrasi tetap saja menyulitkan. Hal ini ditandai dengan giatnya pemerintahan tingkat eksekutif dan mulai terbentuknya komitmen akan penyelesaian setiap permasalahan lingkungan. Walaupun kadang masih menemukan pertentangan dengan beberapa organisasi lingkungan yang masih menganggap bahwa pemerintahan secara umum – khususnya negara-negara maju— masih ragu dalam menentukan batasan teknis.

Biar bagaimanapun, perubahan yang evolutif ini harus dijaga keberlangsungannya untuk perbaikan sistem pengelolaan alam secara global. Saya rasa tidak sulit untuk terus mengingatkan pemerintahan, dimanapun di seluruh dunia.

Demi menjaga komitmen yang mulai tumbuh. mengingat isu perubahan iklim yang bersifat menyeluruh, pihak-pihak yang bersebrangan pun akan mudah untuk melibatkan diri didalamnya. Dengan harapan di masa depan, isu mengenai lingkungan akan terus dikategorikan sebagai permasalahan yang penting untuk di bicarakan secara lebih terkonsentrasi dibanding sebelumnya di tingkat internasional.

Sama seperti sebelumnya, pengaruh ini juga tidak bisa terjadi kalau bukan karena konsistensi pergerakan aktivis lingkungan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Iklim Berubah, Manusia Juga Berubah

Perlu kita ingat bahwa pada dekade sebelumnya, masalah mengenai pengelolaan lingkungan belum menjadi masalah yang benar-benar diperhatikan oleh masyarakat global. Walaupun pada dekade 1980-an kampanye mengenai lingkungan juga marak, namun konteks penyebabnya jelas berbeda dengan yang sekarang.

Dimana dahulu kondisi perang Vietnam dan perang dingin yang memaksa perlombaan senjata—terutama nuklir—yang menjadi penyebab, maka kini yang menjadi penyebab adalah akumulasi semua ketidaktepatan pengelolaan lingkungan yang ditandai dengan terjadinya beberapa fenomena lingkungan yang tidak biasa. Serta tidak sesuai dengan apa yang kita pahami tentang lingkungan sebelumnya.

Beberapa sosiolog bermahzab geografi dan ekologi, termasuk E. Huntington menjelaskan dalam bukunya Civilization and Climate[4], bahwa iklim walaupun termasuk faktor statis, juga mempengaruhi manusia, bukan hanya pada soal distribusi kewilayahan dimana terjadi klasifikasi daerah iklim, namun juga dalam hal sosial kemasyarakatan bahkan kebudayaan.

Melalui pendapatnya, dapat disimpulkan bahwa kondisi masyarakat secara umum memiliki keterkaitan dan hubungan dengan iklim yang ada. Tanpa disadari, kini bukan hanya iklim yang telah berubah, manusia juga mengalami perubahan. Mulai dari konsepsi sosial mengenai lingkungan itu sendiri, serta kebiasaan sosial yang mulai mengalami pergantian.

Sekali lagi, ini juga dimungkinkan dengan adanya konsistensi yang serius dari aktivis lingkungan yang telah membentuk pergerakan sebelumnya.

Isu Pemersatu yang Efektif

Seperti teori sebelumnya yang menyatakan bahwa perubahan iklim tidak hanya merubah keadaan alam disekitar kita, namun juga kondisi kemanusiaan secara sosial kemasyarakatan. Mengacu pada hal tersebut maka perubahan iklim juga perlu dimaknai sebagai sebuah momentum sosial. Momentum sosial akan terjadinya persatuan semua golongan yang berbeda.

Apapun diferensiasi etnisnya ataupun stratifikasi profesinya. Hal ini dikarenakan fungsi-fungsi isu perubahan yang begitu efektif di tingkat internasional. Seperti fungsi isu sebagai interseksi penghilang batasan ideologis serta bentuk permasalahannya yang umum, mampu menarik beberapa pihak yang berbeda latar belakang –sosial, budaya, dan ekonomi – untuk bergabung membentuk sikap yang sama.

Dalam konteks lokal, Indonesia merupakan sebuah negara dengan sifat yang begitu multikultur dan sangat rentan akan perpecahan, juga membutuhkan isu pemersatu.

Maka isu mengenai perubahan iklim ini, dapat dijadikan sebagai sebuah momentum persatuan bangsa sekaligus memacu kebangkitan generasi kepemudaan yang ada. Seperti pergerakan aktivis kepemudaan lintasnegara di bidang lingkungan yang juga berkembang pesat.

Perubahan Iklim, Sebuah Momentum Kebangkitan

Perlu diingat, bahwa posisi Indonesia dalam konvensi tentang isu lingkungan ini cukup sentral dan penting. Dimana secara ekologis, Indonesia serta Brazil dianggap sebagai beberapa negara yang mampu menjadi ‘aktor’ penyelamat dalam isu lingkungan yang ada.

Berdasarkan bekal pengetahuan dan keadaan ekologis yang memadai[5], seharusnya pemerintahan Indonesia kini harus memperbaiki seluruh tindak pengelolaan dan kebijakan pengawasan lingkungan. Agar Indonesia mampu secara benar, mendukung dan dapat memberi contoh berkaitan resolusi perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Walau mungkin tidak akan berdampak besar, karena mengingat posisi Indonesia yang lemah akhir-akhir ini akibat isu terorisme, yang jelas tindakan reformasi kebijakan lingkungan ini mungkin dapat memberikan inspirasi kepada negara-negara lainnya. Hal ini dimungkinkan, jika saja pemerintahan Indonesia dengan efektif mampu menerjemahkan isu perubahan iklim yang terjadi di tingkat global ke tingkat nasional atau bahkan daerah.

Dengan begitu Indonesia dapat bergerak secara multilinial. Akhir kata, pemerintahan serta masyarakat Indonesia – khususnya pemuda – juga harus memantapkan posisinya di mata internasional melalui sumbangan ide dan kampanye efektif terhadap isu perubahan iklim ini.

Dengan modal pengetahuan yang cukup matang dan kondisi ekologis yang sangat menguntungkan, maka tidak sulit jika kemudian Indonesia bisa menjadi negara pelopor sekaligus pemimpin perserikatan negara-negara dalam menghadapi isu perubahan iklim dimasa yang akan datang. Mungkin agak oportunis dan narsistis, namun jika kita bicara tentang lingkungan.

Sudah sepatutnya Indonesia bangkit bersatu melepas identitas politis dan ekonomi di internal negara, lalu mengambil bagian di kancah internasional. Karena isu perubahan iklim adalah sebuah momentum kebangkitan. Kebangkitan Indonesia raya.

—————-

footnote:

[1] Greenpeace International, European Renewable Energy Council (EREC). Working For The Climate: renewable energy & the green job [R]evolution, August 2009

[2] berdasarkan pada hasil dari conference of parties III yang diadakan di Kyoto, Jepang tahun. Tentang pengurangan emisi serta penanggulangan secara berkesinambungan tentang isu lingkungan

[3] salah satu butir kebijakan dari konvensi kerja perserikatan bangsa-bangsa untuk perubahan iklim (UNFCCC) di Bali, Indonesia tahun 2007

[4] Huntington, Ellsworth. Civilization and Climate. New Haven: Yale Univ. Press, 1915.

[5] hal ini bahkan jadi bahan pertimbangan diputuskannya Undang-undang No.17 tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol To The United Nations Framework Convention On Climate Change

ide besar nazi

Adnan mubarak, Jakarta 22 rabi’ul akhir 1430 H

Pasca perang dunia pertama, peta dunia berubah kontras. Jatuhnya daulah ustmani, pudarnya kekuatan beberapa negara kolonial pun turut mewarnai keadaannya. Namun sesuatu yang penting terjadi di jerman. Negara yang kelak akan memulai kembali perang dunia.

Nazi dan perang dunia kedua

sebagai akibat dari pelaksanaan perjanjian versailes yang pro sekutu, jerman pasca perang mengalami
masa resesi yang luar biasa. lalu tokoh-tokoh pergerakan di jerman mulai melihat ketidakjelasan masa depan jerman bila status quo dipertahankan. Puncaknya, di jerman terbentuk sebuah partai baru dengan
nama nazi yang menjargonkan perubahan keadaan di jerman.

Dipimpin oleh para pimpinan yang visioner dan inovatif, nazi mampu menggerakkan massa jerman secara masive dengan satu tujuan, yakni mewujudkan kejayaan bangsa arya di atas dunia.cita-cita yang unik namun ditunggu-tunggu oleh masyarakat jerman yang dilanda ketidakpercayaan diri akut akibat kekalahan perang. Mayoritas penduduk jerman akhirnya percaya bahwa superioritas ras arya adalah mutlak dan bisa diwujudkan bersama.

Dengan modal tersebut, nazi mampu merebut hati masyarakat jerman dan kemudian memulai perang dengan sekutu yang merupakan pemenang perang dunia pertama. Tidak berhenti sampai disitu, nazi dengan inovasi-inovasi revolutifnya mampu mencengangkan dunia dengan kemampuannya mengimbangi kekuatan militer sekutu yang gigantik.

Namun apa daya, perimbangan kekuatan militer nazi yang terjadi hanyalah euphoria sesaat. Dikarenakan superioritas di luar jerman membuat nazi lengah akan konsolidasi internal di dalam negeri. Akibatnya nazi mendapat pertentangan bahkan dari sebagian rakyat jerman itu sendiri. Hal tersebut otomatis menimbulkan situasi yang tidak menguntungkan bagi nazi dan jerman itu sendiri. akibatnya di akhir perang dunia kedua, jerman beserta nazi didalamnya harus tunduk di bawah kuasa negara-negara sekutu.

Nazi sebagai sebuah organisasi

Organisasi selalu memiliki unsur utama didalamnya yang tidak bisa di lepaskan. Termasuk adanya kesamaan ide atau cita-cia bersama. Nazi walaupun berbentuk partai, ia tetap dapat didefinisikan sebagai organisasi biasa. Organisasi yang juga pula memiliki cita-cita besar. Cita-cita atau ide itulah yang kemudian menjadi pengikat anggotanya. Menjadi determinasi kolektif nazi.

Terlepas dari ideologi yang chauvinistik, nazi merupakan salah satu contoh nyata dari sejauh mana sebuah cita-cita besar bisa menyatukan dan menggerakkan organisasi sekaligus. Entah baik atau buruk, pengaruhnya akan menggaung ke berbagai tempat. Karena dorongan yang begitu kuat untuk meraih cita-cita itu, berbagai invensi-invensi inovatif pun dihasilkan secara tidak sengaja. Memperbesar efek nyata yang dihasilkan di sekitarnya.

Karena pada kenyataan yang ada, kegunaan cita-cita dan ide bersama tidaklah sesempit prakiraannya. Namun lebih jauh, hal tersebut bisa juga digunakan untuk memberdayakan organisasi dan mengembangkannya melalui inovasi-inovasi berarti yang dihasilkan olehnya. Jadi deklarasi cita-cita atau ide besar bersama bukanlah sebuah agenda formalitas belaka melainkan salah satu bentuk strategi dalam memberikan motivasi pengembangan baik bagi individu terutama bagi sebuah organisasi. Apapun cita-citanya.

Namun ide dan cita-cita besar tidak akan pernah berkembang, jika tubuh yang menampungnya tidak sebesar idenya. Karena jika dilihat dari sejarah, ketidakpahaman itulah yang menyebabkan nazi mengalami kegagalan dalam mewujudkan ide besarnya. Ketidaksiapannya sebagai sebuah organisasi menyebabkan polemik di berbagai hal.

Oleh karena itu penting bagi setiap organisasi yang ada untuk mempersiapkan diri dengan mengembangkan konsolidasi di dalam, sejalan dengan ide atau cita-cita bersama yang dianut. kemudian bergerak teratur merentas jalan keberhasilan secara bersama-sama.

wallahu’alam bishawab

masa kerapuhan

adnan mubarak, Jakarta 28 rabiul akhir 1430 h

dua pekan menjelang batas akhir pencalonan presiden dan wakil presiden, suasana persaingan antar partai politik mulai kembali hangat. Hal tersebut ditandai dengan berbagai dinamika politik yang terjadi. Terutama manuver politik yang terkait dengan koalisi partai pasca pilleg.

Berbagai pengamat mencoba memetakan peta perpolitikan menjadi 2, yakni incumbent dan reforman. Namun kembali, berbagai intrik politik yang dilakukan partai-partai pemenang pemilu kembali membuat kondisi akhir tetap unpredictable.

ekonomi dan politik

Secara sederhana, dalam koalisi yang mungkin terjalin nanti akan ada beberapa isu penting. Yakni politik dan ekonomi. Politik dalam memberikan stabilitas politik dengan meredam protes partai-partai yang kalah pemilu. Serta ekonomi dalam menentukan arah perekonomian di tengah situasi krisis global.

Sampai pada tahap penjajakan koalisi saja, parpol sudah bisa mempengaruhi sistem politik yang ada. Karena itu koalisi mungkin merupakan salah satu kesempatan terbaik untuk merubah posisi demi tujuan pragmatis meraih suara di pilpres. namun jika kita mau melihat lebih jauh kedepan, koalisi kini bisa jadi merupakan konfigurasi politik pemerintahan kedepan. maka sudah sewajarnya berbagai gerakan koalisi partai wajib untuk di perhatikan dengan seksama agar masyarakat kedepan tidak bingung.

Semua hal tersebut mengokohkan situasi ini sebagai masa paling rapuh sebelum pembentukan pemerintahan. menentukan warna pemerintahan kedepan reliable atau tidak.

Poros ketiga

berbagai kemungkinan yang bisa terjadi ada beberapa kemungkinan yang mesti dicegah. Demi keberhasilan pemerintah dimasa yang akan datang. Salah satu nya adalah kemungkinan adanya poros baru yang akan muncul. Hal tersebut mengakibatkan kekuatan koalisi pemerintahan akan bertambah lemah. Mengapa perlu diwaspadai? Melihat berbagai fakta politik yang ada, kemungkinan untuk munculnya poros baru akan tetap ada dan semakin lama semakin besar. Disadari atau tidak ternyata faktor persamaan yang dibutuhkan untuk membentuk koalisi tidak terbatas pada platform atau program. Namun bisa juga karena kesamaan nasib pasca pemilu, menang atau kalah.

Esensi pasti yang mestinya kita pahami dalam menentukan dukungan terhadap berbagai koalisi, bukan pada banyaknya saja. Tapi sejauh mana kemungkinan koalisi tersebut mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dengan efektif.

Economical platform

Platform politik yang identik dengan kebijakan birokrasi mungkin bisa jadi market tool yang menjual, namun harus disadari berdasarkan keadaan krisis global kini, platform ekonomi lah yang sesuai untuk diusung dan ditampilkan oleh koalisi partai yang terbentuk. Karena terbukti, permasalahan perekonomian merupakan salah satu permasalahan terberat kini melihat banyaknya penurunan kinerja pasar modal akhir-akhir ini.

Koalisi partai incumbent bisa jadi akan menyuarakan sistem perekonomian yang sama yakni lebih cenderung liberal (propasar), lalu partai reforman akan menyuarakan perubahan sistem pasar yang menuntut peran pemerintah yang lebih besar didalamnya.

kenapa perlu memandang koalisi partai dari segi ekonomi? jika anda masih ingat bahwa pecahnya kongsi partai demokrat dan golkar kemarin mampu membuat indeks perekonomian dalam negeri tertekan. hal ini mesti dipahami oleh masyarakat. apabila tidak hati-hati di bidang politik bisa jadi nanti, imbasnya bisa meluas ke bidang lainnya.

Singkat kata, dinamika persaingan parpol semakin acak dan memerlukan pandangan yang cerdas untuk menentukan sikap dan dukungan. Agar ke depan tidak akan ada lagi penyesalan karena kurangnya kehati-hatian kita dalam menentukan dukungan di pemilu presiden mendatang. karena realita sekarang menunjukkan bahwa koalisi yang terbangun sekarang bukan berbasis ideologi tapi kepentingan politik murni.

bangkitlah negeri ku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab

belajar dari china

adnan mubarak, Jakarta 29 rabiul akhir 1430 h

china bisa di klasifikasikan sebagai salah satu peradaban besar dunia. dari segi umur, china merupakan peradaban tertua, karena cina tercatat pertama kali didiami manusia purba sejak 1,7 juta tahun lalu. berbeda dengan peradaban lain, sejarah peradaban china tidak pernah terputus hampir selama 5000 tahun. pergantian dinasti ataupun bencana besar lainnya tidak mampu menjadikan peradaban china hilang. meskipun memakan korban yang tidak sedikit.

sejarah mereka yang penuh dengan pergantian kekuasaan justru membuat peradaban china sebagai peradaban yang banyak memiliki kisah besar, dari penyatuan ke tujuh negara oleh dinasti qin, perubahan jumlah kerajaan menjadi tiga (wu,wei,shu), hingga terbentuknya republik diatas kegagalan sistem dinasti di akhir dinasti qing. hal ini dikarenakan peradaban china berbeda dengan kebudayaan yunani yang bersifat utopis, namun cenderung lebih realistis, maka kemudian peradaban china tumbuh dalam tradisi yang produktif. penuh dengan karya besar.

Tembok besar china

masih teringat oleh penulis sebuah bangunan kokoh yang sering menjadi lambang kebesaran china yang tetap dipertahankan keberadaannya oleh pemerintah sosialis china. yakni great wall of china atau tembok besar china. bangunan yang punya sejarah besar didalamnya. perlambang kapasitas china sebagai peradaban yang punya tradisi produktifitas.

tujuan dibangunnya tembok ini adalah sebagai sebuah alat pertahanan negara mencegah serangan dari mongol dan dibangun selama ratusan tahun. pembangunannya sempat terhenti beberapa kali. uniknya proses pembangunannya dikelola oleh beberapa dinasti yang berbeda, yakni dinasti qin, dinasti sui, dan dinasti ming.

tidak banyak diketauhi orang, cina pernah mengalami nasib sebagai bangsa terjajah ketika kubilai khan dari mongol mendirikan dinasti yuan setelah berhasil menjatuhkan dinasti jin di akhir abad ke 13. dinasti yuan merupakan dinasti pertama yang memerintah seluruh wilayah china dengan tersentral di beijing namun akhirnya terjadi pemberontakan oleh zhu yuanzhan dari suku han (suku mayoritas di china) dan kemudian berhasil mengakhiri dinasti yuan dengan mendirikan dinasti ming.

china modern

kini china telah bertransformasi menjadi negara sosialis yang kuat. walaupun pernah terpuruk, china dengan konsensus beijingnya mampu menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi kuat skala dunia menggeser uni soviet sebagai pesaing amerika. luar biasanya, china muncul di tengah kehancuran sistem ekonomi barat yang ditandai dengan krisis global. maka lengkap lah kisah mengenai peradaban besar china.

indonesia sebagai negara yang berkembang, seharusnya mampu belajar dari china dalam beberapa hal besar yang telah china buat secara nyata. sadar atau tidak, indonesia punya banyak kesamaan sejarah dengan china.

indonesia mampu tumbuh berkembang dan masuk kedalam daftar peradaban-peradaban besar dunia. hanya jika, sekali lagi hanya jika indonesia mau untuk membuka mata dan menyadari bahwa peradaban besar tidak hanya ada di belahan dunia bagian barat.

mau membuka wawasan ilmu ke berbagai kemungkinan. karena indonesia punya unsur-unsur yang mampu menjadikannya peradaban besar, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. melihat indonesia kini begitu bergantung pada peradaban barat. indonesia mestinya bisa mengembangkan caranya tersendiri, “cara indonesia”. seperti bagaimana china menemukan caranya sendiri.

tidak terburu-buru

memang, tidak ada istilah terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. termasuk bercita-cita menjadikan bangsa ini bangsa yang besar. namun tidak ada kewajiban bagi kita untuk terburu-buru dalam mewujudkannya.

karena peradaban yang besar serta karya-karya besar merupakan hasil akumulatif dari beberapa generasi yang punya cita-cita sama. hal ini dapat kita lihat dari proses pembangunan tembok besar china yang melibatkan beberapa generasi didalamnya. untuk mewujudkannya, kita butuh usaha atau bahkan pengorbanan besar didalamnya, seperti begitu banyaknya rakyat china yang gugur dalam proses perubahan di china menuju kondisinya kini.

maka tugas besar menunggu kita di depan, untuk mengembangkan kapasitas peradaban indonesia menjadi peradaban besar yang madani dan mandiri serta memiliki kepribadian yang teguh dan independen.

bangkitlah negeri ku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bisshawab

bangsa dan moralitas

adnan mubarak, Jakarta 22 jumadil awwal 1430 h

dimasa ketika awal islam turun di mekah. seluruh dunia tengah diselimuti oleh kegelapan moral dan kemunduran peradaban. semua itu ditandai dengan betapa banyaknya budaya amoral yang bisa ditemukan pada hampir seluruh bangsa besar pada saat itu. sebuah pertanyaan sederhana muncul pada saat kita ditanya mengapa mekah dipilih oleh Allah sebagai tempat turunnya islam. padahal ada beberapa peradaban besar yang punya kemampuan pada bidangnya masing-masing.

ketiga bangsa

tidak begitu jauh dari mekah, ada sebuah bangsa besar bernama persia. terkenal dengan kekayaan sumberdaya dan kemampuan arsitektural yang mengagumkan menjadikannya termasuk salah satu bangsa besar pada masa itu.

namun dalam kehidupan mereka, bangsa persia punya suatu anggapan yang menghalalkan wanita. sehingga budaya amoral juga tumbuh disana. tidak hanya itu, mereka juga punya tradisi filosofis yang menyatakan keserbabolehan terhadap segala hal. menjadikan mereka begitu rendah. terlihat jelas bahwa ternyata kekayaan sumberdaya yang dialaminya justru menjadikan mereka jauh dari predikat kemanusiaan.

di belahan bumi bagian lain, masih ada sebuah bangsa besar lain yang punya potensi kebesaran. tidak dalam hal sumberdaya melainkan kemampuan militer yang gigantik. ialah bangsa romawi. bangsa yang merasa bahwa mereka dilahirkan untuk menguasai seluruh dunia. kemampuan mereka dalam mengekspansi kerajaannya sangat luar biasa. dalam berbagai kesimpulan, banyak ahli sejarah yang menyatakan bahwa kelebihan mereka dalam bidang militer membuat mereka cenderung arogan dan merendahkan bangsa lain. karenanya romawi turut berperan membesarkan budaya perbudakan dan penjajahan. menjadikan mereka juga termasuk dalam bangsa-bangsa yang jauh dari nilai kemanusiaan.

pada belahan bagian selatan asia, masih ada sebuah bangsa yang lumayan besar dan patut diperhitungkan, itulah india. walaupun mereka secara umum merupakan sebuah bangsa yang tidak memiliki keunggulan baik dibidang sumberdaya ataupun militer. namun bangsa india punya keunggulan dibidang kebudayaan dan filsafat yang kuat.

sayangnya, hampir sama seperti beberapa bangsa kecil diasia lainnya. india punya tradisi dan budaya yang utopis dan penuh khayalan. menjadikan mereka tidak berkembang. menjadikan mereka dahulu saling menyerang satu sama lain hanya karena perbedaan kepercayaan. sungguh ironis.

perkembangan yang tidak seimbang

ketiga bangsa diatas menggambarkan pada kita bahwa keunggulan apapun, kadang justru akan menjadikan kita jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. terlihat bagaimana ketiga bangsa besar tersebut justru terjebak pada permasalahan yang sama. mereka tidak mampu mengembangkan peradaban bersama-sama nilai-nilai kemanusiaan didalamnya. sehingga mereka tumbuh menjadi bangsa yang berat sebelah. yang berkembang dengan pesat dalam paham materialistik yang menyejahterakan namun rendah karena budaya amoral yang juga ikut berkembang. betapa menyedihkan nya kondisi peradaban manusia didunia pada saat itu.

ikut terjebak

gejala kemunduran peradaban kemanusiaan juga ikut melanda bangsa arab yang ada di semenanjung arab. mereka berperang hanya demi harga diri mereka serta kejayaan suku dan keturunan. selain itu mereka membunuh anak-anak mereka demi kehormatan. dalam segi kepercayaan, mereka terjebak pada kondisi yang penuh dengan kebodohan dan ketidaktahuan. maka tidak salah jika mereka mendapatkan predikat jahiliah.

bahan baku

namun, ada perbedaan besar antara tiga kebudayaan sebelumnya dengan bangsa arab. dimana kondisi bangsa arab walau dekat dengan persia dan romawi, bangsa ini tidak pernah dianggap punya potensi. mereka pun juga tidak punya keunggulan dan kemampuan yang superior dibanding bangsa lainnya. bahkan cenderung dipermainkan oleh bangsa-bangsa kecil disekitarnya. dapat diingat bahwa sebelum kedatangan islam, bangsa arab selalu dijajah oleh bangsa-bangsa kecil disekitarnya. seperti yaman dan habasyah (ethiopia).

diluar semua itu, menurut syaikh ramadhan al buthy*, kondisi mereka yang seperti ‘bahan baku’ ini lah yang menjadikan mereka punya potensi yang jauh lebih besar dan ternyata benar. ketika islam datang dan kemudian berkembang pada bangsa ini, perkembangan yang dialami olehnya kemudian mampu memimpin perubahan terhadap ketiga bangsa besar diatas. menjadikannya bangsa yang benar-benar terhormat di mata dunia.

harapan bagi kita

ada sesuatu yang bisa kita ambil dari hikmah ilahiyah diatas. dimana islam merupakan satu-satunya variabel yang mampu menjadikan suatu bangsa benar-benar berkembang. menjadikan bangsa tersebut tunduk dan patuh pada Allah sang Maha Pencipta dan tidak terjebak pada ‘ketuhanan’ manusia.

mungkin inilah yang belum disadari oleh para pemimpin di indonesia. bahwa asset paling berharga yang mampu mereka kembangkan untuk menjadikan sebuah bangsa ini besar adalah islam. islam yang kini hanya dipandang oleh sebagian besar orang hanya memilki dimensional vertikal. tanpa menyadari potensi horisontal yang mungkin dihasilkan olehnya.

semoga kemudian calon pemimpin masa depan bisa belajar dari sejarah bahwa hanya islam lah yang mampu hadir sebagai metode, konsepsi, paham, ideologi, dan identitas yang akan menghantarkan sebuah bangsa kepada keadilan dan kesejahteraan yang paripurna.

hanya Allah lah yang Maha Menghendaki segala sesuatunya. Dia lah yang Maha Tahu akan keadaan dan kemampuan kita. sehingga kini secara umum. peradaban manusia telah mencapai kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Bangkitlah negeriku, Harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab

—-
*) disarikan dari kitab sirah nabawiyah karya syaikh ramadhan al buthy. bab pendahuluan.