Menghafal Kembali Pancasila Kita

Oleh Adnan Mubarak

Ketika populasi manusia di berbagai belahan dunia mulai berkembang dan bertumbuh di masing-masing tempat. Dengan segala bentuk unik dari morfologi alam yang ada di bumi ini, masing-masing kelompok masyarakat bertumbuh dengan karakteristiknya sendiri. Inilah yang terjadi di berbagai dunia, dimana setiap karakteristik bangsa dibentuk melalui kekhususan alam yang ada di sekitarnya. Sebagaimana kita mungkin ketahui bahwa kebudayaan bangsa Tibet yang tinggal di pegunungan Everest secara jelas akan jauh berbeda dengan kebudayaan bangsa Mesir yang banyak dipengaruhi oleh keberadaan sungai Nil.

sebuah makam pharaoh yang terbuat dari emas

sebuah makam pharaoh yang terbuat dari emas

Otentisitas Karakteristik kelompok masyarakat

Karakteristik ini tergambar dari unsur-unsur kebudayaan yang mengakar secara turun-menurun di masing-masing kelompok masyarakat.  Bentuknya bisa berupa bahasa, sistem kepercayaan, sistem keluarga, sistem teknologi, dan elemen kebudayaan lain yang bisa dipahami sebagai sesuatu yang otentik. Otentik yang berarti bahwa sesuatu merupakan hal yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Kalaupun ada yang mirip, tetap saja tidak akan sama.

Tentu karakteristik yang merepresentasi kebudayaan yang tidak bermanfaat secara internal di kelompok masyarakat tersebut, tetapi juga menjadi identitas ketika suatu kelompok masyarakat bertemu dengan kelompok masyarakat yang lainnya. Melalui berbagai tindakan antar kelompok masyarakat yang biasa terjadi sejak dahulu, seperti berdagang, atau juga mungkin berperang.

Pemahaman ini penting guna memahami Indonesia secara komprehensif. Karena untuk bisa memahami Indonesia merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Melihat komposisi alam yang begitu indah sekaligus beragam, tidak heran ketika dalam pemetaan etnik masyarakatnya, Indonesia secara umum dapat dilihat sebagai sebuah kelompok masyarakat yang tidak homogen, melainkan sangat multikultur. Ada jawa, ada sunda, ada bugis, ada minang, dan berbagai identitas etnis yang memiliki karakteristik yang unik lainnya.

Menjadi Indonesia

Lalu bagaimana kumpulan etnis ini membentuk identitas keindonesiaannya? Jawabannya bisa jadi terdengar ngawur, tapi secara ilmiah sebenarnya dapat dijelaskan, yaitu bahwa identitas keindonesiaan yang kita miliki itu dibentuk dan secara sengaja dibuat. Hal ini tentu menyadarkan kita betapa cerdasnya para pendiri bangsa Indonesia ini dalam membentuk identitas keindonesiaan. Karena hal ini bisa jadi tidak bisa ditemukan dibelahan dunia yang lain.

rektor Universitas Paramadina

rektor Universitas Paramadina

Sebagai contoh misalnya, Anies Baswedan, intelektual muda Indonesia yang juga rektor Universitas Paramadina, sering membeberkan fakta bahwa ketiadaan bahasa yang sama diantara komunitas European Union (UE) menjadikan mereka kesulitan untuk berkomunikasi, sedangkan kita sebagai bangsa Indonesia sedari awal tidak terjebak oleh permasalahan tersebut.

Para pendiri bangsa ini, membuat berbagai perangkat penyatu. Pada awalnya, yang dibentuk adalah kesadaran bahwa bangsa Indonesia punya nasib yang sama. Lalu mereka juga memperkenalkan lagu kebangsaan, bahasa Indonesia, kesemuanya diikat dengan sebuah konsepsi kebersatuan etnis bernama nasionalisme Indonesia. Seakan menjadi penyempurna dari seperangkat identitas ini, pancasila dikemudian dirumuskan.

Kesaktian pancasila

Oleh sebagian orang, pancasila tidak hanya konsep, tapi sesuatu ide yang sakti. Kenapa sakti? Karena interpretasi terbuka oleh semua orang dari semua etnis di Indonesia atas kelima sila tersebut mengarahkan kita pada kesamaan keinginan akan pentingnya hidup bersama dalam satu kesatuan bangsa.

buku berjudul Imagined Communities karangan Benedict Anderson

buku berjudul Imagined Communities karangan Benedict Anderson

Melalui seperangkat ide dan symbol kebersatuan itu, para pendiri bangsa ini memperkenalkan nasionalisme pada kumpulan etnis yang ragam tersebut. Mereka membuat ikatan imajinatif tentang sebuah bangsa bernama Indonesia, dimana kumpulan etnis dari sabang sampai merauke mengalami penderitaan kolonialistis yang sama dan menyedihkan selama berates tahun. Karena inilah, Benedict Anderson menyebut nasionalisme, konsep yang menyatukan bangsa Indonesia, sebagai Imagined Comunnities, Komunitas Imajinatif.

Kebudayaan adalah kekayaan

anak-anak kecil memakai baju daerah

anak-anak kecil memakai baju daerah

Ragam etnis, ragam bahasa, dan bahkan tentu saja, ragam makanan khas! This is our blessing from God. Kita kaya akan dan karena kebudayaan kita. karena entah bagaimana caranya, kadang budaya menjadi sesuatu yang menarik dan bisa dijual, bahkan jadi industri. Pariwisata misalnya.

Ini semua belum menjadi masalah sampai kita sadar, atau setidaknya coba disadarkan oleh para ahli dan futurolog – mereka yang melakukan studi untuk memproyeksi masa depan –  bahwa ada sebuah tren mendunia bernama globalisasi. Sebuah tren yang memudarkan batas territorial dari Negara-negara, serta memudahkan akses diantara Negara-negara tersebut. Secara mudah, globalisasi menjadikan mobilisasi dan interaksi antar kelompok masyarakat di berbagai negara menjadi semakin sering.

Adakah potensi permasalahan? Tentu ketika kita paham apa akibat lanjutan dari dunia yang semakin borderless, yaitu ketika dunia mulai melupakan tidak hanya batas, namun identitas lokalnya masing-masing. Generasi Indonesia hari ini bisa saja kehilangan ketertarikan dengan kebudayaannya dan mulai membangun ketertarikan atas kebudayaan lain. Kehilangan identitas dan menjelma menjadi yang lain.

sederhananya, itu berarti kebudayaan kita yang berharga dan kaya ini bisa jadi tergerus kebudayaan lain yang terakses mudah karena tren globalisasi. Hal ini tentu berarti bahwa bangsa kita akan kehilangan kekayaannya perlahan. Kebudayaan dan identitasnya.

rakyat bali menjujung arak-arakan pancasila

rakyat bali menjujung arak-arakan pancasila

Bagaimana bangsa kita menahan laju efek negatif dari Globalisasi ini? Tentu dengan kembali menguatkan identitas keindonesiaan kita beserta pengetahuan sejarahnya. Penyebaran kontennya harus berfokus pada pengetahuan dan pemahaman akan konsep kebangsaan kita yang multikultur namun tetap bisa menyatu sebagai sebuah bangsa yang satu.

Menegaskan keajaiban kebersatuan kita sebagai sebuah identitas yang tidak sembarangan.

dengan begitu, bangsa Indonesia hari ini bisa menyadari keunikan konsep kebangsaan bangsa Indonesia diantara berbagai konsep kebangsaan yang ada di berbagai belahan dunia secara fair. Tetap menghargai budaya bangsa lain, namun tetap hidup dalam identitas kebudayaan Indonesia yang begitu kaya. konkritnya? bisa dimulai dengan jangan malu menggunakan bahasa Indonesia dan mari hafalkan kembali pancasila🙂

banner lomba blog PusakaID

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s