perasaan rindu

aku rindu, aku rindu

pada masa dimana pemimpin ku sendiri yang menyuapi ketika rakyatnya kelaparan

pada masa dimana pemimpin ku sendiri yang menyelimuti ketika rakyatnya kedinginan

aku rindu, aku rindu

pada masa dimana pemimpin ku menangis ditengah malam merenungi dirinya dan memohon akan kesejahteraan rakyatnya

pada masa dimana pemimpin ku menahan lapar saat rakyatnya ada yang belum makan

aku rindu, aku rindu

Juli 1913, beberapa puluh tahun sebelum kemerdekaan, tersiar kabar tentang keinginan masyarakat Belanda yang tinggal dan menetap di Hindia-Belanda untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari bangsa Prancis.

secara pribadi, bagi saya,  semua itu biasa saja, hingga muncul kenyataan bahwa para penduduk hindia belanda (baca:indonesia) di wajibkan untuk menyumbangkan harta berharga yang mereka miliki. apapun itu entah uang, entah barang.

beberapa tokoh bangsa pada saat itu, dr. Tjipto serta Soewardi, seorang aristokrat di kalangan keraton pakualaman, membentuk sebuah komite khusus yang menentang rencana tersebut.

dari komite itu sebuah buletin berbahasa belanda bertajuk Als Ik Eens nederland Was (seandainya saya orang belanda) disebarluaskan. menggebrak euforia para oranye di tanah nusantara.

pengandaian argumentatif dengan kekuatan paradigma berfikir yang kuat dan penggunaan diksi serta kutipan ekspresi yang superlatif menjadikan tulisan sang bapak pendidikan nasional ini kental akan nuansa emosi yang humanis, namun cerdas.

singkat kata, bagai melempar batu ke tengah genangan air, buletin itu menggemparkan keadaan sosio-politik saat itu. situasi berubah panas dan kontraproduktif untuk kolonialis. semua itu berujung pada pengasingan sang penulis.

berbicara mengenai semangat tulisannya –walau saya belum membacanya penuh–  sebenarnya terjadi penitikberatan pada konteks ‘ketidakpantasan’ daripada konteks kolonialis lainnya. ketidakpantasan orang-orang belanda yang telah merdeka dari perancis untuk meminta uang pada yang masih belum merdeka.

seorang Soewardi, mampu membuktikan jiwa nasionalisnya dengan mengkritik ‘ketidakpantasan’ belanda tersebut. walau ia berakhir dengan pengasingan, ia tetap berhasil membuktikan siapa dirinya, seorang nasionalis dan humanis.

januari 2010, beberapa puluh tahun setelah merdeka,  terbayang kembali sebuah berita yang mengabarkan pembelian puluhan toyota crown saloon, dengan budget 1,3 milyar per buah. padahal, disaat yang sama ada  berita mengenai pasangan muda di daerah depok meninggalkan ketiga anaknya karena tidak mampu secara ekonomi untuk mengasuh mereka. miris.

entah paradigma paradoks milik pemerintah republik INDONESIA yang serupa dengan tragedi juli 1913 itu, atau entah penjajah kolonial BELANDA telah mewariskan semuanya kepada jelmaan kolonial modern (baca:pemerintah) , semuanya sama saja. sama-sama tidak pantas. sama-sama ironi.

bagai tetesan air di tengah samudra, suara dan tulisan ini tidak akan terdengar dan –sama seperti unjukrasa lainnya– akan dianggap sampah oleh pemerintahan yang kini berkuasa. padahal kami –yang mengkritik pemerintah akan ketidak pantasan ini– hanya ingin membuktikan kadar nasionalisme pada diri kami, sama seperti Soewardi a.k.a Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kami.

disemua kekacauan dan ketidakpastian ini kusadari sesuatu, hanya kepada Tuhan saja bisa kuajukan ini semua ini, semua perasaan ini.

Ya Allah, yang Maha Kuasa, yang memerdekakan bangsa kami, yang menyelamatkan Ibrahim dari panasnya api, yang membelah lautan agar Musa mampu melewatinya, selamatkan lah kami, bimbing lah kami, tuntaskan rasa kerinduan kami yang mendalam pada sosok pemimpin teladan nan ideal, tuntaskanlah, tuntaskanlah..

Bangkitlah bangsaku, Harapan itu masih ada!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s