masa kerapuhan

adnan mubarak, Jakarta 28 rabiul akhir 1430 h

dua pekan menjelang batas akhir pencalonan presiden dan wakil presiden, suasana persaingan antar partai politik mulai kembali hangat. Hal tersebut ditandai dengan berbagai dinamika politik yang terjadi. Terutama manuver politik yang terkait dengan koalisi partai pasca pilleg.

Berbagai pengamat mencoba memetakan peta perpolitikan menjadi 2, yakni incumbent dan reforman. Namun kembali, berbagai intrik politik yang dilakukan partai-partai pemenang pemilu kembali membuat kondisi akhir tetap unpredictable.

ekonomi dan politik

Secara sederhana, dalam koalisi yang mungkin terjalin nanti akan ada beberapa isu penting. Yakni politik dan ekonomi. Politik dalam memberikan stabilitas politik dengan meredam protes partai-partai yang kalah pemilu. Serta ekonomi dalam menentukan arah perekonomian di tengah situasi krisis global.

Sampai pada tahap penjajakan koalisi saja, parpol sudah bisa mempengaruhi sistem politik yang ada. Karena itu koalisi mungkin merupakan salah satu kesempatan terbaik untuk merubah posisi demi tujuan pragmatis meraih suara di pilpres. namun jika kita mau melihat lebih jauh kedepan, koalisi kini bisa jadi merupakan konfigurasi politik pemerintahan kedepan. maka sudah sewajarnya berbagai gerakan koalisi partai wajib untuk di perhatikan dengan seksama agar masyarakat kedepan tidak bingung.

Semua hal tersebut mengokohkan situasi ini sebagai masa paling rapuh sebelum pembentukan pemerintahan. menentukan warna pemerintahan kedepan reliable atau tidak.

Poros ketiga

berbagai kemungkinan yang bisa terjadi ada beberapa kemungkinan yang mesti dicegah. Demi keberhasilan pemerintah dimasa yang akan datang. Salah satu nya adalah kemungkinan adanya poros baru yang akan muncul. Hal tersebut mengakibatkan kekuatan koalisi pemerintahan akan bertambah lemah. Mengapa perlu diwaspadai? Melihat berbagai fakta politik yang ada, kemungkinan untuk munculnya poros baru akan tetap ada dan semakin lama semakin besar. Disadari atau tidak ternyata faktor persamaan yang dibutuhkan untuk membentuk koalisi tidak terbatas pada platform atau program. Namun bisa juga karena kesamaan nasib pasca pemilu, menang atau kalah.

Esensi pasti yang mestinya kita pahami dalam menentukan dukungan terhadap berbagai koalisi, bukan pada banyaknya saja. Tapi sejauh mana kemungkinan koalisi tersebut mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dengan efektif.

Economical platform

Platform politik yang identik dengan kebijakan birokrasi mungkin bisa jadi market tool yang menjual, namun harus disadari berdasarkan keadaan krisis global kini, platform ekonomi lah yang sesuai untuk diusung dan ditampilkan oleh koalisi partai yang terbentuk. Karena terbukti, permasalahan perekonomian merupakan salah satu permasalahan terberat kini melihat banyaknya penurunan kinerja pasar modal akhir-akhir ini.

Koalisi partai incumbent bisa jadi akan menyuarakan sistem perekonomian yang sama yakni lebih cenderung liberal (propasar), lalu partai reforman akan menyuarakan perubahan sistem pasar yang menuntut peran pemerintah yang lebih besar didalamnya.

kenapa perlu memandang koalisi partai dari segi ekonomi? jika anda masih ingat bahwa pecahnya kongsi partai demokrat dan golkar kemarin mampu membuat indeks perekonomian dalam negeri tertekan. hal ini mesti dipahami oleh masyarakat. apabila tidak hati-hati di bidang politik bisa jadi nanti, imbasnya bisa meluas ke bidang lainnya.

Singkat kata, dinamika persaingan parpol semakin acak dan memerlukan pandangan yang cerdas untuk menentukan sikap dan dukungan. Agar ke depan tidak akan ada lagi penyesalan karena kurangnya kehati-hatian kita dalam menentukan dukungan di pemilu presiden mendatang. karena realita sekarang menunjukkan bahwa koalisi yang terbangun sekarang bukan berbasis ideologi tapi kepentingan politik murni.

bangkitlah negeri ku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s