bangsa dan moralitas

adnan mubarak, Jakarta 22 jumadil awwal 1430 h

dimasa ketika awal islam turun di mekah. seluruh dunia tengah diselimuti oleh kegelapan moral dan kemunduran peradaban. semua itu ditandai dengan betapa banyaknya budaya amoral yang bisa ditemukan pada hampir seluruh bangsa besar pada saat itu. sebuah pertanyaan sederhana muncul pada saat kita ditanya mengapa mekah dipilih oleh Allah sebagai tempat turunnya islam. padahal ada beberapa peradaban besar yang punya kemampuan pada bidangnya masing-masing.

ketiga bangsa

tidak begitu jauh dari mekah, ada sebuah bangsa besar bernama persia. terkenal dengan kekayaan sumberdaya dan kemampuan arsitektural yang mengagumkan menjadikannya termasuk salah satu bangsa besar pada masa itu.

namun dalam kehidupan mereka, bangsa persia punya suatu anggapan yang menghalalkan wanita. sehingga budaya amoral juga tumbuh disana. tidak hanya itu, mereka juga punya tradisi filosofis yang menyatakan keserbabolehan terhadap segala hal. menjadikan mereka begitu rendah. terlihat jelas bahwa ternyata kekayaan sumberdaya yang dialaminya justru menjadikan mereka jauh dari predikat kemanusiaan.

di belahan bumi bagian lain, masih ada sebuah bangsa besar lain yang punya potensi kebesaran. tidak dalam hal sumberdaya melainkan kemampuan militer yang gigantik. ialah bangsa romawi. bangsa yang merasa bahwa mereka dilahirkan untuk menguasai seluruh dunia. kemampuan mereka dalam mengekspansi kerajaannya sangat luar biasa. dalam berbagai kesimpulan, banyak ahli sejarah yang menyatakan bahwa kelebihan mereka dalam bidang militer membuat mereka cenderung arogan dan merendahkan bangsa lain. karenanya romawi turut berperan membesarkan budaya perbudakan dan penjajahan. menjadikan mereka juga termasuk dalam bangsa-bangsa yang jauh dari nilai kemanusiaan.

pada belahan bagian selatan asia, masih ada sebuah bangsa yang lumayan besar dan patut diperhitungkan, itulah india. walaupun mereka secara umum merupakan sebuah bangsa yang tidak memiliki keunggulan baik dibidang sumberdaya ataupun militer. namun bangsa india punya keunggulan dibidang kebudayaan dan filsafat yang kuat.

sayangnya, hampir sama seperti beberapa bangsa kecil diasia lainnya. india punya tradisi dan budaya yang utopis dan penuh khayalan. menjadikan mereka tidak berkembang. menjadikan mereka dahulu saling menyerang satu sama lain hanya karena perbedaan kepercayaan. sungguh ironis.

perkembangan yang tidak seimbang

ketiga bangsa diatas menggambarkan pada kita bahwa keunggulan apapun, kadang justru akan menjadikan kita jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. terlihat bagaimana ketiga bangsa besar tersebut justru terjebak pada permasalahan yang sama. mereka tidak mampu mengembangkan peradaban bersama-sama nilai-nilai kemanusiaan didalamnya. sehingga mereka tumbuh menjadi bangsa yang berat sebelah. yang berkembang dengan pesat dalam paham materialistik yang menyejahterakan namun rendah karena budaya amoral yang juga ikut berkembang. betapa menyedihkan nya kondisi peradaban manusia didunia pada saat itu.

ikut terjebak

gejala kemunduran peradaban kemanusiaan juga ikut melanda bangsa arab yang ada di semenanjung arab. mereka berperang hanya demi harga diri mereka serta kejayaan suku dan keturunan. selain itu mereka membunuh anak-anak mereka demi kehormatan. dalam segi kepercayaan, mereka terjebak pada kondisi yang penuh dengan kebodohan dan ketidaktahuan. maka tidak salah jika mereka mendapatkan predikat jahiliah.

bahan baku

namun, ada perbedaan besar antara tiga kebudayaan sebelumnya dengan bangsa arab. dimana kondisi bangsa arab walau dekat dengan persia dan romawi, bangsa ini tidak pernah dianggap punya potensi. mereka pun juga tidak punya keunggulan dan kemampuan yang superior dibanding bangsa lainnya. bahkan cenderung dipermainkan oleh bangsa-bangsa kecil disekitarnya. dapat diingat bahwa sebelum kedatangan islam, bangsa arab selalu dijajah oleh bangsa-bangsa kecil disekitarnya. seperti yaman dan habasyah (ethiopia).

diluar semua itu, menurut syaikh ramadhan al buthy*, kondisi mereka yang seperti ‘bahan baku’ ini lah yang menjadikan mereka punya potensi yang jauh lebih besar dan ternyata benar. ketika islam datang dan kemudian berkembang pada bangsa ini, perkembangan yang dialami olehnya kemudian mampu memimpin perubahan terhadap ketiga bangsa besar diatas. menjadikannya bangsa yang benar-benar terhormat di mata dunia.

harapan bagi kita

ada sesuatu yang bisa kita ambil dari hikmah ilahiyah diatas. dimana islam merupakan satu-satunya variabel yang mampu menjadikan suatu bangsa benar-benar berkembang. menjadikan bangsa tersebut tunduk dan patuh pada Allah sang Maha Pencipta dan tidak terjebak pada ‘ketuhanan’ manusia.

mungkin inilah yang belum disadari oleh para pemimpin di indonesia. bahwa asset paling berharga yang mampu mereka kembangkan untuk menjadikan sebuah bangsa ini besar adalah islam. islam yang kini hanya dipandang oleh sebagian besar orang hanya memilki dimensional vertikal. tanpa menyadari potensi horisontal yang mungkin dihasilkan olehnya.

semoga kemudian calon pemimpin masa depan bisa belajar dari sejarah bahwa hanya islam lah yang mampu hadir sebagai metode, konsepsi, paham, ideologi, dan identitas yang akan menghantarkan sebuah bangsa kepada keadilan dan kesejahteraan yang paripurna.

hanya Allah lah yang Maha Menghendaki segala sesuatunya. Dia lah yang Maha Tahu akan keadaan dan kemampuan kita. sehingga kini secara umum. peradaban manusia telah mencapai kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Bangkitlah negeriku, Harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab

—-
*) disarikan dari kitab sirah nabawiyah karya syaikh ramadhan al buthy. bab pendahuluan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s