Argentum Ad Nausem

adnan mubarak, Jakarta 5 jumadil akhir 1430 h

beberapa waktu yang lalu, ada sebuah tayangan yang dihentikan penayangannya oleh KPI karena adanya pengaduan masyarakat mengenai isi acara tersebut yang dinilai tidak pantas untuk ditayangkan. ironisnya ternyata hal tersebut tidak mampu menghentikan adanya acara sejenis yang dibuat oleh saluran televisi yang lain.

periode dilemmatis

ketika masa orde baru, indonesia mengalami masa yang paling menyedihkan. dimana informasi yang disebar oleh media massa di masyarakat begitu kuat dikendalikan oleh pemerintah. tapi kini, dimana demokrasi telah menjadi sebuah alasan tak terbantahkan atas kebebasan berekspresi, media massa kini telah menjadi “terlalu bebas”.

sebenarnya, kebebasan berekspresi tidaklah buruk dalam segala hal. jika penempatannya tidak merugikan dan lebih bersifat bertanggung jawab. karena sewajarnya lingkup haknya kebebasan bergantung pada bentuk tanggung jawab yang diemban.

sebuah trend

ada sebuah trend yang melanda sebagian besar saluran televisi di indonesia. yakni munculnya acara reality show yang sifatnya mengumbar-umbar pertengkaran dan kesedihaan. dengan nama yang berbeda-beda, acara sejenis muncul di beberapa saluran televisi dengan durasi yang cukup panjang.

sebagai reaksi wajar, ada banyak pendapat masyarakat yang menilai acara sejenis memiliki beberapa keburukan dan kepalsuan maka tidak pantas untuk ditayangkan. keburukan yang dimaksud ialah cerita yang dilebih-lebihkan dan tayangan yang seharusnya tidak ditayangkan (pertengkaran dan kesedihan yang berlebihan), serta kepalsuan dari segi cerita yang agak tidak logis.

proses pembodohan?

telah menjadi rahasia umum, jika ada anggapan tentang acara pertelevisian di indonesia kini tidak mendidik, karena adanya acara tersebut. bahkan ada yang dengan mudah menyatakan adanya bentuk tayangan televisi tersebut adalah proses pembodohan bagi masyarakat. benarkah?

menurut teri gambel*, secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari.

hal seperti apakah yang akan terjadi bila tontonan yang dihadirkan media sebagai pandangan yang harusnya dipakai oleh pemirsa adalah tayangan yang tidak sesuai dan melanggar nilai-nilai kemasyarakatan?

mengacu pada acara reality show yang seperti saya terangkan diatas, maka tak khayal, ke depan masyarakat indonesia akan menganggap keadaan yang ada di reality show tersebut adalah kondisi yang ideal. naudzubillah. dengan kata lain, benar adanya telah terjadi pembodohan terhadap masyarakat.

argentum ad nausem

hal ini sejalan dengan teori joseph goebbels, yang pernah menyatakan bahwa kebohongan yang diinformasikan secara terus menerus lewat media nantinya akan diterima oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran. teknik propaganda seperti ini disebut argentum ad nausem**.

sangat disayangkan apabila kecenderungan dunia pertelevisian indonesia sekarang dalam kondisi yang mengarah kesana. naudzubillah.

perubahan orientasi

didalam pengantar ilmu sosiologi, media massa jika dipergunakan secara benar akan berfungsi sebagai lembaga sosial– selain hukum, sekolah, dan keluarga– yang berfungsi mengarahkan masyarakat menjadi lebih tertib dan teratur. hal tersebut dikarenakan pengaruh yang dihasilkan media massa bisa begitu efektif.

maka, perlu pengelolaan media dengan bijak, fungsi media massa yang menghibur (entertainment) juga harus memperhatikan aspek pengawasan (surveillance) secara sosial terhadap informasi yang diterima masyarakat. agar pembentukan karakter dan kebudayaan pada masyarakat bisa efektif.

dalam konteks kekinian, KPI (komisi penyiaran indonesia) seharusnya bertindak lebih agresif dalam menindak oknum-oknum media massa yang mengorientasikan media massa menjadi lebih profit oriented dan mengorbankan aspek-aspek kewajaran yang mestinya ada.

tanggung jawab bersama

karena secara sosial, pembentukan karakter masyarakat tidak hanya terjadi di keluarganya. namun juga dari beberapa sumber yang mampu mempengaruhinya.

jika kita mampu memposisikan dengan baik hal diatas, prototip karakter masyarakat indonesia masa depan, bisa kita bentuk dari saat ini. melalui sarana pembentuk yang ada, yakni keluarga, sekolah, hukum, dan media massa.

oleh karena itu, minimal perlu ada kesadaran dari lembaga pembentuk tersebut untuk merubah orientasi mereka menjadi lebih ”sosial”.

agar kedepan indonesia akan mampu menghasilkan generasi emas kebanggan dunia. generasi yang berkepribadian indonesia dalam berbudaya. yang hanya bisa dibentuk di “rumah kita”, indonesia.

bangkitlah bangsa ku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab


*Gamble, Teri and Michael. Communication works. Seventh edition.
**teknik propaganda yang sama dengan yang diterapkan pemerintahan nazi dalam memberikan “bad image” orang-orang yahudi kepada masyarakat jerman. teknik ini disinyalir sukses. dirancang oleh adolf hitler, lalu disempurnakan oleh joseph goebbels , menteri propaganda jerman masa perang dunia kedua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s