faktor sinergitas ummat

tsiqah

Dalam struktur jamaah da’wah tentu ada pemimpin (qa’id) dan ada yang dipimpin (jundi). Keduanya harus memiliki tsiqah yang sehat secara timbal balik. Bagi para anggota, tsiqahnya adalah ketenangan hati kepada pemimpin (tsiqah bil qiyadah). Sikap ini tak akan lahir dari doktrin semata. Loyalitas anggota pada pemimpin, terbentuk dari sentuhan dan interaksi seorang anggota secara langsung kepada pemimpinnya, hingga tumbuh keyakinan akan kebersihan niat, kualitas moral, kapasitas pemikiran, dan keluasan wawasan pemimpin.

Sebaliknya, seorang pemimpin juga harus memiliki rasa tsiqah kepada para anggotanya. Para pemimpin harus percaya terhadap keikhlasan, kapasitas, kualitas, dan komitmen anggotanya. Tsiqah secara timbal balik seperti ini (tsiqah mutabadilah) yang akan memelihara kekuatan struktur da’wah karena dikendalikan oleh al-qaid al-mautsuq bihi wa jundi al-muthi (pemimpin yang dipercaya dan anggota yang taat).

Mengamalkan rasa tsiqah, membutuhkan kesabaran yang besar. Utamanya bila ada ketidakcocokan seorang anggota jamaah da’-wah dengan kebijakan pimpinannya, atau kebijakan da’wah secara umum.

Melontarkan gagasan, ide atau usulan merupakan sikap positif, sepanjang dilakukan secara proporsional dan benar. Namun, tak mesti sampai merasa hanya pendapatnya yang paling benar. Atau, boleh jadi benar, tapi jama’ah da’wah belum bisa menerimanya karena berbagai hal yang menghalangi penerapannya. Seperti kemampuan jama’ah yang terbatas, atau karena sedang memfokuskan perhatian pada masalah lain yang lebih penting.

Struktur jama’ah da’wah yang solid bukan berarti menolak sikap kritis. Sikap kritis dalam jama’ah da’wah adalah sikap kritis untuk hal-hal yang tidak ada wahyunya atau yang telah menjadi hasil syura.

karena itu, sikap yang mesti dihindari ialah adanya faqdus tsiqah (kehilangan kepercayaan) dari qiyadah kepada para jundinya.

ukhuwah

ukhuwah atau yang ditransliterasikan secara sederhana sebagai ikatan persaudaraan ini, bukan hanya ikatan yang bersifat ‘alamiah’ melainkan merupakan sebuah fitrah. fitrah bagi setiap muslim untuk menjalin ikatan persaudaraan yang dalam atas dasar islam. ikatan ini begitu kuat dan mampu berada diatas semua ikatan lain yang sifatnya lughawi (tidak memiliki nilai di hadapan Allah swt).

ukhuwah kemudian akan menghasilkan rasa kebersamaan. rasa kebersamaan yang terus dipertahankan kemudian akan mencapai puncak ketika munculnya itsar (rasa berbagi). ketika seorang muslim mau berbagi apa saja dengan muslim lainnya karena ikatan persaudaraan yang begitu kuat. hal ini telah dicontohkan oleh para sahabat.

apa yang mendasari ikatan tersebut ialah identitas muslim yang kolektif, karenanya hal tersebut (ukhuwah ) tidak membutuhkan interseksi atau titik kesamaan lain untuk menjadikan nya sebagai sebuah komunitas. karena islam itu sendiri juga merupakan identitas kebersamaan ukhuwah islamiyah.

amal jama’i

bertindak secara pribadi (individual) tentunya akan menghasilkan akibat yang berbeda dengan tindakan yang dilakukan secara berkelompok (kolektif). tindakan kolektif ini bisa disamakan dengan amal jama’i. dari konsep yang hampir sama ini, amal jama’i punya nilai lebih, yakni adanya unsur ‘amal’ yang dikedepankan. tindakan kolektif mungkin bisa berarti tindakan apa saja (terlepas baik dan buruknya). maka amal jama’i adalah amal yang dilakukan secara kolektif. dengan begitu ada nilai/hikmah kebaikan yang bisa diambil darinya.

tentu saja, konsep mengenai amal jama’i ini tidak lah kuno dan kaku. didalamnya dituntut keefisiensian dari kinerja partisipan dan juga sistematika tahapan. contoh sederhana, dalam sebuah kepanitian kegiatan amal ada yang bertindak sebagai perencana (planner), pelaksana (eksekutor), dan pengawas (supervisor).

mengacu pada konsep sebelumnya, maka hal diatas bisa digolongkan sebagai sebuah implementasi sederhana amal jama’i. yang perlu dipahami ialah bentuk amal jama’i adalah sebuah konsep. maka lingkup kerja dan ukuran yang dipakai bisa disesuaikan dengan realita yang ada. bisa jadi lingkup kerjanya adalah lingkungan sekolah, atau pun satu negara atau bahkan sedunia.

ruhul istijabah

ruhul istijabah (semangat menjawab seruan) adalah salah satu sikap yang ideal bagi seorang aktivis dakwah, hal tersebut menunjukkan kualitas aktivis secara komprehensif dan menyeluruh. baik dari segi militansi dan kepekaan akan lingkungan sekitar.

hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan dari Allah dan Rasul….(QS, 8:24)

berdasarkan dalil naqli diatas, ada kalimat yang mewajibkan yang sama seperti dalil yang menyerukan untuk berpuasa di bulan ramadhan.yakni kalimat ‘hai orang-orang yang beriman’.

perlu digarisbawahi, dakwah islam yang matang tidak hanya membutuhkan konsep, sistem, dan prinsip yang memadai tapi kualitas aktivis dakwah yang optimal sebagai penggerak bukan hanya alat.

bangkitlah bangsaku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s