Menghafal Kembali Pancasila Kita

Oleh Adnan Mubarak

Ketika populasi manusia di berbagai belahan dunia mulai berkembang dan bertumbuh di masing-masing tempat. Dengan segala bentuk unik dari morfologi alam yang ada di bumi ini, masing-masing kelompok masyarakat bertumbuh dengan karakteristiknya sendiri. Inilah yang terjadi di berbagai dunia, dimana setiap karakteristik bangsa dibentuk melalui kekhususan alam yang ada di sekitarnya. Sebagaimana kita mungkin ketahui bahwa kebudayaan bangsa Tibet yang tinggal di pegunungan Everest secara jelas akan jauh berbeda dengan kebudayaan bangsa Mesir yang banyak dipengaruhi oleh keberadaan sungai Nil.

sebuah makam pharaoh yang terbuat dari emas

sebuah makam pharaoh yang terbuat dari emas

Otentisitas Karakteristik kelompok masyarakat

Karakteristik ini tergambar dari unsur-unsur kebudayaan yang mengakar secara turun-menurun di masing-masing kelompok masyarakat.  Bentuknya bisa berupa bahasa, sistem kepercayaan, sistem keluarga, sistem teknologi, dan elemen kebudayaan lain yang bisa dipahami sebagai sesuatu yang otentik. Otentik yang berarti bahwa sesuatu merupakan hal yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Kalaupun ada yang mirip, tetap saja tidak akan sama.

Tentu karakteristik yang merepresentasi kebudayaan yang tidak bermanfaat secara internal di kelompok masyarakat tersebut, tetapi juga menjadi identitas ketika suatu kelompok masyarakat bertemu dengan kelompok masyarakat yang lainnya. Melalui berbagai tindakan antar kelompok masyarakat yang biasa terjadi sejak dahulu, seperti berdagang, atau juga mungkin berperang.

Pemahaman ini penting guna memahami Indonesia secara komprehensif. Karena untuk bisa memahami Indonesia merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Melihat komposisi alam yang begitu indah sekaligus beragam, tidak heran ketika dalam pemetaan etnik masyarakatnya, Indonesia secara umum dapat dilihat sebagai sebuah kelompok masyarakat yang tidak homogen, melainkan sangat multikultur. Ada jawa, ada sunda, ada bugis, ada minang, dan berbagai identitas etnis yang memiliki karakteristik yang unik lainnya.

Menjadi Indonesia

Lalu bagaimana kumpulan etnis ini membentuk identitas keindonesiaannya? Jawabannya bisa jadi terdengar ngawur, tapi secara ilmiah sebenarnya dapat dijelaskan, yaitu bahwa identitas keindonesiaan yang kita miliki itu dibentuk dan secara sengaja dibuat. Hal ini tentu menyadarkan kita betapa cerdasnya para pendiri bangsa Indonesia ini dalam membentuk identitas keindonesiaan. Karena hal ini bisa jadi tidak bisa ditemukan dibelahan dunia yang lain.

rektor Universitas Paramadina

rektor Universitas Paramadina

Sebagai contoh misalnya, Anies Baswedan, intelektual muda Indonesia yang juga rektor Universitas Paramadina, sering membeberkan fakta bahwa ketiadaan bahasa yang sama diantara komunitas European Union (UE) menjadikan mereka kesulitan untuk berkomunikasi, sedangkan kita sebagai bangsa Indonesia sedari awal tidak terjebak oleh permasalahan tersebut.

Para pendiri bangsa ini, membuat berbagai perangkat penyatu. Pada awalnya, yang dibentuk adalah kesadaran bahwa bangsa Indonesia punya nasib yang sama. Lalu mereka juga memperkenalkan lagu kebangsaan, bahasa Indonesia, kesemuanya diikat dengan sebuah konsepsi kebersatuan etnis bernama nasionalisme Indonesia. Seakan menjadi penyempurna dari seperangkat identitas ini, pancasila dikemudian dirumuskan.

Kesaktian pancasila

Oleh sebagian orang, pancasila tidak hanya konsep, tapi sesuatu ide yang sakti. Kenapa sakti? Karena interpretasi terbuka oleh semua orang dari semua etnis di Indonesia atas kelima sila tersebut mengarahkan kita pada kesamaan keinginan akan pentingnya hidup bersama dalam satu kesatuan bangsa.

buku berjudul Imagined Communities karangan Benedict Anderson

buku berjudul Imagined Communities karangan Benedict Anderson

Melalui seperangkat ide dan symbol kebersatuan itu, para pendiri bangsa ini memperkenalkan nasionalisme pada kumpulan etnis yang ragam tersebut. Mereka membuat ikatan imajinatif tentang sebuah bangsa bernama Indonesia, dimana kumpulan etnis dari sabang sampai merauke mengalami penderitaan kolonialistis yang sama dan menyedihkan selama berates tahun. Karena inilah, Benedict Anderson menyebut nasionalisme, konsep yang menyatukan bangsa Indonesia, sebagai Imagined Comunnities, Komunitas Imajinatif.

Kebudayaan adalah kekayaan

anak-anak kecil memakai baju daerah

anak-anak kecil memakai baju daerah

Ragam etnis, ragam bahasa, dan bahkan tentu saja, ragam makanan khas! This is our blessing from God. Kita kaya akan dan karena kebudayaan kita. karena entah bagaimana caranya, kadang budaya menjadi sesuatu yang menarik dan bisa dijual, bahkan jadi industri. Pariwisata misalnya.

Ini semua belum menjadi masalah sampai kita sadar, atau setidaknya coba disadarkan oleh para ahli dan futurolog – mereka yang melakukan studi untuk memproyeksi masa depan –  bahwa ada sebuah tren mendunia bernama globalisasi. Sebuah tren yang memudarkan batas territorial dari Negara-negara, serta memudahkan akses diantara Negara-negara tersebut. Secara mudah, globalisasi menjadikan mobilisasi dan interaksi antar kelompok masyarakat di berbagai negara menjadi semakin sering.

Adakah potensi permasalahan? Tentu ketika kita paham apa akibat lanjutan dari dunia yang semakin borderless, yaitu ketika dunia mulai melupakan tidak hanya batas, namun identitas lokalnya masing-masing. Generasi Indonesia hari ini bisa saja kehilangan ketertarikan dengan kebudayaannya dan mulai membangun ketertarikan atas kebudayaan lain. Kehilangan identitas dan menjelma menjadi yang lain.

sederhananya, itu berarti kebudayaan kita yang berharga dan kaya ini bisa jadi tergerus kebudayaan lain yang terakses mudah karena tren globalisasi. Hal ini tentu berarti bahwa bangsa kita akan kehilangan kekayaannya perlahan. Kebudayaan dan identitasnya.

rakyat bali menjujung arak-arakan pancasila

rakyat bali menjujung arak-arakan pancasila

Bagaimana bangsa kita menahan laju efek negatif dari Globalisasi ini? Tentu dengan kembali menguatkan identitas keindonesiaan kita beserta pengetahuan sejarahnya. Penyebaran kontennya harus berfokus pada pengetahuan dan pemahaman akan konsep kebangsaan kita yang multikultur namun tetap bisa menyatu sebagai sebuah bangsa yang satu.

Menegaskan keajaiban kebersatuan kita sebagai sebuah identitas yang tidak sembarangan.

dengan begitu, bangsa Indonesia hari ini bisa menyadari keunikan konsep kebangsaan bangsa Indonesia diantara berbagai konsep kebangsaan yang ada di berbagai belahan dunia secara fair. Tetap menghargai budaya bangsa lain, namun tetap hidup dalam identitas kebudayaan Indonesia yang begitu kaya. konkritnya? bisa dimulai dengan jangan malu menggunakan bahasa Indonesia dan mari hafalkan kembali pancasila🙂

banner lomba blog PusakaID

tentang ibu

saya percaya bahwa ibu adalah peletak fondasi karakter bangsa dalam lingkup terkecil yakni keluarga. karenanya setiap pencarian istri (hahaha, ini serius sob, bukan lagi galau) itu juga harus melihat seberapa besar kesiapan si calon dalam membentuk dirinya sedemikian rupa sebelum menjadi seorang ibu. ini penting, karena tidak semua perempuan berusia muda ‘ingat’ untuk menyiapkan dirinya untuk hal-hal seperti ini. tetapi tenang, ini juga terjadi pada laki-laki. tragis, padahal inilah yang penting.

perang orang tua itu penting, terutama ibu, karena biar bagaimanapun fungsi ibu itu adalah untuk menjadi guru pertama bagi setiap anak-anaknya. ibu lah yang mengajarkan beberapa hal sensitif yang punya impact serius bagi pola pikir dan karakter kita, karena ibu lah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apa itu jenis kelamin, apa itu agama, apa itu dunia. dan setiap jawaban serta treatment ibu, selalu akan berdampak bagi anak-anaknya.

apa buktinya? sederhana, mana mungkin akan ada lelaki seperti imam syafi’i Allahuyarham tanpa adanya seorang ummu syafi’i yang mengantarkan anaknya sholat berjamaah di mesjid semenjak umurnya 5 tahun, menjaganya agar terhindar dari segala syubhat termasuk makanan dan air susu tetangga semenjak imam syafi’i Allahuyarham masih bayi. fakta sejarah juga memberitahu kita bahwa pada dasarnya yang mengajari thomas alva edison itu ialah ibunya, karena dalam biographynya, penemu yang satu ini tidak pernah secara serius menempuh jalur pendidikan resmi dan menerima pengajaran ilmu dari orang lain selain ibunya.

itu penjelasan mengenai ibu dari sudut pandang kita sebagai calon orang tua (hahaha, sekali lagi ini bukan lagi galau, ini serius). bagaimana kalau kita lihat ibu dari sudut pandang kita sebagai anak-anak ibu kita?

Allah berfirman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.  (QS, Al-Luqman 14)

Dari sahabat abu hurairah radiyalhu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda :

Datang seorang pria laki-laki kepada rasulullah kemudian dia bertanya : Wahai rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau bersabda, “Ibumu”, Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Bapakmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

gugurlah sudah semua alasan untuk tidak berbakti pada ibu kita. kandungan ibu kita selama 9 bulan 10 hari bagi yang normal atau lebih singkat kalau prematur atau lebih sampai 1 dan 2 tahun seperti imam malik Allahuyarham ketika masih di dalam kandungan itu merupakan sesuatu yang wajib kita hargai dengan pengabdian seumur hidup kita. dengan tentu saja memperhatikan adab-adabnya.

Allah berfirman:

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (al-Isra’ 23)

Kemudian dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Adabul Mufrad. Ketika Abu Hurairah ditanya bagaimana berbakti kepada kedua orang tua, ia berkata,

Janganlah engkau memberikan nama seperti namanya, janganlah engkau berjalan dihadapannya, dan janganlah engkau duduk sebelum dia duduk

apa manfaatnya? bagi anda yang utilitarian, berbakti kepada orang tua akan menjadikan kita menjadi orang yang mulia, seperti salah seorang pemuda bermata biru dan berambut merah bernama uwais al qarni, seorang tabiin, seorang lelaki shalih yang berbakti pada orang tuanya dan oleh Rasulullah Saw diberitakan kepada umar bin khattab agar dimintai doanya karena mustajab. hal ini diriwayatkan oleh imam muslim Allahuyarham dalam shahihnya.

karenanya, seriously man, don’t mess with your mother.

—————

ini ada lagu keren dari seamo, judulnya mother

lagu ini dipergunakan sama mas danang buat bikin videonya ‘sang pembuat jejak’

berikut lyric dari lagu tersebut. liriknya dalam sekali. coba baca sambil liat videonya.

English version

Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me

Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own

Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today

(Repeat*)

I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock

But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…

(Repeat*)

Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you

 

semoga bicara kita tidak (hanya) retoris

sebuah fakta sejarah bahwa hampir semua orang besar itu pandai bicara. fakta lainnya adalah setiap orang besar itu bukan hanya pandai dalam hal berbicara, tapi juga pandai dalam memaknai isi bicaranya. bisa jadi tidak semua bicaranya itu serius, tapi pasti punya hikmah. insight. semoga ‘bicara saya’ yang berbentuk tulisan ini punya insight juga bagi semuanya.

memahami pakem ini, mungkin bagi semua orang yang ingin menjadi orang besar, belajar untuk dapat berbicara dengan baik itu penting. tetapi tetap saja bagi saya, bicara itu bukan apa-apa selain tool. nilai kegunaannya tetap ditentukan oleh orang yang menggunakannya. menjadikan saya juga harus selalu berhati-hati dalam berbicara. berbicara karena perlu, berbicara karena memang itu dibutuhkan. semua ini berdasar pada penafsiran saya yang sederhana atas semua interaksi saya dengan dunia publik, bahwa berbicara itu selalu punya dua indikator, substansi dan urgensi. substansi karena ia akan menunjukkan bobot pengaruh bicaranya. urgensi karena ia akan menunjukkan betapa pentingnya berbicara. kenapa berbicara jadi penting? kenapa tidak diam saja? karena tidak selamanya diam adalah emas.

substansi

substansi adalah satu hal penting yang sering terlupa dalam arus lalu lintas pembicaraan kita setiap hari. idealnya tentu bicara kita adalah cara komunikasi paling umum dalam menginformasikan gagasan kita bagi siapa saja yang bisa mendengar kita berbicara. bisa jadi dalam bicara kita, ada gagasan hebat. atau bisa jadi juga tidak ada gagasan apapun dalam bicara kita. itulah yang saya maksud dengan substansi bicara. pesan yang dikandung dalam bicara.

mereka yang berhati-hati, banyak yang memilih diam ketika susunan logika ucapan dan bicaranya masih mentah dan berpotensi mudharat kalau terucap. bagi saya inilah diam yang emas. diam yang terjadi karena proses olah gagasan verbalnya belum maksimal dan cuma menghasilkan bahan bicara yang rejected.

analogi sederhananya, kalaulah proses berbicara adalah manajemen operasional suatu pabrik manufaktur, penjagaan kualitasnya tentu akan terfokus pada proses pembuatan dan pengujian hasil yang punya standar baku tersendiri sebelum dilepas di pasar. karena setiap hasil produksi pabrik akan jadi bukti terdepan kualitas merek pabrikan tersebut. termasuk ucapan kita, semakin bagus substansi ucapan kita, baik maksud atau bentuk, semakin bagus pula citra ucapan kita, dan itu berarti semakin mudah gagasan kita tersebar karena citra baik tersebut. itu sebabnya, substansi bicara kita adalah prioritas utama sebelum urgensinya.

urgensi

masih tentang citra, satu hal yang ingin saya latih dalam fase hidup saya kali ini adalah mengatur intensitas bicara saya. atau dengan kata lain urgensitas bicara saya.  saya percaya, bahwa ada pengaruh yang menyebar beriringan dengan serangkaian kata yang terucap dalam sebuah ‘bicara’.  semakin banyak ucapan, semakin banyak pula pengaruh yang kita sebar, semakin besar juga citra kita sebagai penyebar pengaruh. seperti layaknya semua hal yang dapat kita ukur, seorang penyebar pengaruh akan selalu punya batasan proporsional dimana ia harus berhenti berbicara, kembali diam, karena diamnya telah kembali menjadi emas.

berbicara atau menyebar pengaruh, sama-sama cara menjadikan diri kita dalam posisi memimpin. dalam posisi ini kita harus sadar betul, existensi kita akan selalu jadi hal sensitif dimata orang lain, terutama bagi teman-teman yang belum mengetahui niat baik kita yang sering kita kenali sebagai musuh. karenanya, kita harus memahami, the man who wants to lead an orchestra, must turn his back to the crowd. begitu kata max lucado. sederhananya, untuk jadi pemimpin dalam kebaikan yang diterima semua orang itu diperlukan kesediaan mengurangi existensinya.

akhir

tujuan besarnya ialah agar setiap kebaikan yang kita pimpin dan utarakan tidak selamanya jadi bukti pamer kita yang retorika semata. tapi murni kerjasama semua pihak yang berniat baik termasuk kita. toh, ada saat dimana memang kita ‘harus’ berbicara karena substansi kita yang kuat sekali sampe peng-pengan bahasa betawinya dan urgensi bicara kita yang suda benar-benar desperately needed bahasa inggrisnya. karena memang, pemimpin itu idealnya pendiam, banyak merenung mengolah substansi bicaranya, sekaligus mencoba menjadikan saat bicaranya jadi langka dan urgent.

sejujurnya saya lupa mengatur ritme tulisan ini. maaf kalau arah tulisannya agak bersilangan. ambil saja yang baiknya. karenanya pula semoga Allah mengampuni kita -terutama saya- yang lemah lagi pelupa ini, atas setiap kesalahan lisan yang terjadi. Allahummaghfir…

_____

ada beberapa video yang saya temukan dalam pencarian saya mengenai metode berbicara. ada beberapa contoh tentang bagaimana gagasan hebat itu bisa dideliver melalui bicara. baik lewat substansi ataupun urgensitasnya.

yang pertama anies baswedan waktu presentasi soal program indonesia mengajar. thrilling.

yang kedua anis matta waktu presentasi soal program 100 pemimpin muda indonesia. ini keren juga.

yang ketiga dari jfk waktu presentasi soal program ambisius antariksa amerika yang keren banget speechnya.

yang keempat dari bung tomo waktu menggerakkan arek2 suroboyo

yang kelima dari bj habibie tentang gagasan pancasila dalam kerangka berfikirnya

yang keenam dari barrack obama soal gagasan united states dalam kampanyenya

yang ketujuh dari martin luther king jr, soal mimpinya tentang amerika yang sudah tidak rasial lagi

yang kedelapan dari malcolm x, soal persatuan diatas warna kulit untuk perubahan kondisi saat itu

yang kesembilan dari syaikh abdullah azzam soal jihad yang fardu ain.

yang kesepuluh dari soekarno ketika ngomong di depan rakyat jakarta pada saat itu. sakti memang. rakyatnya pada diem pas disuruh.

yang kesebelas dari mel gibson di film braveheart. pidato soal kebebasan.

yang keduabelas dari steve jobs, soal hidupnya yang naek turun. keren.

terakhir, yang ketigabelas dari al pacino dari film any given sunday.  fight for every centimeter..

lagi kebelet

ya Robb, jika aku benar jatuh hati, aku ingin cepat terbang hingga ke akad. hingga syetan tak sempat hinggap. buat aku kuat ya Allah. dekap aku. sibukkan lah aku jika memang sudah terjadi. jadikan aku fokus pada tujuan ku. jadikan cinta yang ada sebagai cinta yang punya nilai luhur dan penuh akan kecintaanMu. Amiin.

cinta tanpa definisi

Oleh Anis Matta

Serial Cinta

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangungan-bangungan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. la ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari sebuah kekuatan tak terkira. la jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm—dalam The Art of Loving— idak tertarik—atau juga tidak sanggup—mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya. Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada definisi memang. Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi.

Tapi inilah obrolan manusia sepanjang masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majunun, Siti Nurbaya atau Cinderella. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya.

Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan. Bukan definisi. Ia disentuh sebagai sebuah situasi manusiawi, dengan detil-detil nuansa yang begitu rumit. Tapi dengan pengaruh yang terlalu dahsyat. Cinta merajut semua emosi manusia dalam berbagai peristiwa kehidupannya menjadi sublim: begitu agung tapi juga terlalu rumit.

Perang berubah jadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta memasuki wilayah-wilayahnya. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayag-sayap Patah-nya.

Kerumitan terletak pada antagoni-antagoninya. Tapi di situ pula daya tariknya tersembunyi. Kerumitan tersebar pada detil-detil nuansa emosinya, berpadu atau berbeda. Tapi pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya yang teramat dahsyat dalam kehidupan manusia.

Seperti ketika kita menyaksikan gemuruh badai, luapan banjir atau nyala api, seperti itulah cinta bekerja dalam kehidupan kita. Semua sifat dan cara kerja udara, api dan air juga terdapat dalam sifat dan cara kerja cinta. Kuat. Dahsyat. Lembut. Tak terlihat. Penuh haru biru. Padat makna. Sarat gairah. Dan, antagonis.

Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisinya: karena—kemudian—semua keajaiban terjawab di sana.

(Majalah Tarbawi edisi 78 Th. 5/Dzulhijjah 1424 H/19 Pebruari 2004 M)

perasaan rindu

aku rindu, aku rindu

pada masa dimana pemimpin ku sendiri yang menyuapi ketika rakyatnya kelaparan

pada masa dimana pemimpin ku sendiri yang menyelimuti ketika rakyatnya kedinginan

aku rindu, aku rindu

pada masa dimana pemimpin ku menangis ditengah malam merenungi dirinya dan memohon akan kesejahteraan rakyatnya

pada masa dimana pemimpin ku menahan lapar saat rakyatnya ada yang belum makan

aku rindu, aku rindu

Juli 1913, beberapa puluh tahun sebelum kemerdekaan, tersiar kabar tentang keinginan masyarakat Belanda yang tinggal dan menetap di Hindia-Belanda untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari bangsa Prancis.

secara pribadi, bagi saya,  semua itu biasa saja, hingga muncul kenyataan bahwa para penduduk hindia belanda (baca:indonesia) di wajibkan untuk menyumbangkan harta berharga yang mereka miliki. apapun itu entah uang, entah barang.

beberapa tokoh bangsa pada saat itu, dr. Tjipto serta Soewardi, seorang aristokrat di kalangan keraton pakualaman, membentuk sebuah komite khusus yang menentang rencana tersebut.

dari komite itu sebuah buletin berbahasa belanda bertajuk Als Ik Eens nederland Was (seandainya saya orang belanda) disebarluaskan. menggebrak euforia para oranye di tanah nusantara.

pengandaian argumentatif dengan kekuatan paradigma berfikir yang kuat dan penggunaan diksi serta kutipan ekspresi yang superlatif menjadikan tulisan sang bapak pendidikan nasional ini kental akan nuansa emosi yang humanis, namun cerdas.

singkat kata, bagai melempar batu ke tengah genangan air, buletin itu menggemparkan keadaan sosio-politik saat itu. situasi berubah panas dan kontraproduktif untuk kolonialis. semua itu berujung pada pengasingan sang penulis.

berbicara mengenai semangat tulisannya –walau saya belum membacanya penuh–  sebenarnya terjadi penitikberatan pada konteks ‘ketidakpantasan’ daripada konteks kolonialis lainnya. ketidakpantasan orang-orang belanda yang telah merdeka dari perancis untuk meminta uang pada yang masih belum merdeka.

seorang Soewardi, mampu membuktikan jiwa nasionalisnya dengan mengkritik ‘ketidakpantasan’ belanda tersebut. walau ia berakhir dengan pengasingan, ia tetap berhasil membuktikan siapa dirinya, seorang nasionalis dan humanis.

januari 2010, beberapa puluh tahun setelah merdeka,  terbayang kembali sebuah berita yang mengabarkan pembelian puluhan toyota crown saloon, dengan budget 1,3 milyar per buah. padahal, disaat yang sama ada  berita mengenai pasangan muda di daerah depok meninggalkan ketiga anaknya karena tidak mampu secara ekonomi untuk mengasuh mereka. miris.

entah paradigma paradoks milik pemerintah republik INDONESIA yang serupa dengan tragedi juli 1913 itu, atau entah penjajah kolonial BELANDA telah mewariskan semuanya kepada jelmaan kolonial modern (baca:pemerintah) , semuanya sama saja. sama-sama tidak pantas. sama-sama ironi.

bagai tetesan air di tengah samudra, suara dan tulisan ini tidak akan terdengar dan –sama seperti unjukrasa lainnya– akan dianggap sampah oleh pemerintahan yang kini berkuasa. padahal kami –yang mengkritik pemerintah akan ketidak pantasan ini– hanya ingin membuktikan kadar nasionalisme pada diri kami, sama seperti Soewardi a.k.a Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kami.

disemua kekacauan dan ketidakpastian ini kusadari sesuatu, hanya kepada Tuhan saja bisa kuajukan ini semua ini, semua perasaan ini.

Ya Allah, yang Maha Kuasa, yang memerdekakan bangsa kami, yang menyelamatkan Ibrahim dari panasnya api, yang membelah lautan agar Musa mampu melewatinya, selamatkan lah kami, bimbing lah kami, tuntaskan rasa kerinduan kami yang mendalam pada sosok pemimpin teladan nan ideal, tuntaskanlah, tuntaskanlah..

Bangkitlah bangsaku, Harapan itu masih ada!