tentang bangsa dan dunia dari kedua mataku

Arsip Penulis

tentang ibu

saya percaya bahwa ibu adalah peletak fondasi karakter bangsa dalam lingkup terkecil yakni keluarga. karenanya setiap pencarian istri (hahaha, ini serius sob, bukan lagi galau) itu juga harus melihat seberapa besar kesiapan si calon dalam membentuk dirinya sedemikian rupa sebelum menjadi seorang ibu. ini penting, karena tidak semua perempuan berusia muda ‘ingat’ untuk menyiapkan dirinya untuk hal-hal seperti ini. tetapi tenang, ini juga terjadi pada laki-laki. tragis, padahal inilah yang penting.

perang orang tua itu penting, terutama ibu, karena biar bagaimanapun fungsi ibu itu adalah untuk menjadi guru pertama bagi setiap anak-anaknya. ibu lah yang mengajarkan beberapa hal sensitif yang punya impact serius bagi pola pikir dan karakter kita, karena ibu lah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti apa itu jenis kelamin, apa itu agama, apa itu dunia. dan setiap jawaban serta treatment ibu, selalu akan berdampak bagi anak-anaknya.

apa buktinya? sederhana, mana mungkin akan ada lelaki seperti imam syafi’i Allahuyarham tanpa adanya seorang ummu syafi’i yang mengantarkan anaknya sholat berjamaah di mesjid semenjak umurnya 5 tahun, menjaganya agar terhindar dari segala syubhat termasuk makanan dan air susu tetangga semenjak imam syafi’i Allahuyarham masih bayi. fakta sejarah juga memberitahu kita bahwa pada dasarnya yang mengajari thomas alva edison itu ialah ibunya, karena dalam biographynya, penemu yang satu ini tidak pernah secara serius menempuh jalur pendidikan resmi dan menerima pengajaran ilmu dari orang lain selain ibunya.

itu penjelasan mengenai ibu dari sudut pandang kita sebagai calon orang tua (hahaha, sekali lagi ini bukan lagi galau, ini serius). bagaimana kalau kita lihat ibu dari sudut pandang kita sebagai anak-anak ibu kita?

Allah berfirman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.  (QS, Al-Luqman 14)

Dari sahabat abu hurairah radiyalhu ‘anhu, Rasulullah Saw bersabda :

Datang seorang pria laki-laki kepada rasulullah kemudian dia bertanya : Wahai rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau bersabda, “Ibumu”, Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi,”kemudian siapa?”. Beliau bersabda,”Bapakmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

gugurlah sudah semua alasan untuk tidak berbakti pada ibu kita. kandungan ibu kita selama 9 bulan 10 hari bagi yang normal atau lebih singkat kalau prematur atau lebih sampai 1 dan 2 tahun seperti imam malik Allahuyarham ketika masih di dalam kandungan itu merupakan sesuatu yang wajib kita hargai dengan pengabdian seumur hidup kita. dengan tentu saja memperhatikan adab-adabnya.

Allah berfirman:

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (al-Isra’ 23)

Kemudian dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Adabul Mufrad. Ketika Abu Hurairah ditanya bagaimana berbakti kepada kedua orang tua, ia berkata,

Janganlah engkau memberikan nama seperti namanya, janganlah engkau berjalan dihadapannya, dan janganlah engkau duduk sebelum dia duduk

apa manfaatnya? bagi anda yang utilitarian, berbakti kepada orang tua akan menjadikan kita menjadi orang yang mulia, seperti salah seorang pemuda bermata biru dan berambut merah bernama uwais al qarni, seorang tabiin, seorang lelaki shalih yang berbakti pada orang tuanya dan oleh Rasulullah Saw diberitakan kepada umar bin khattab agar dimintai doanya karena mustajab. hal ini diriwayatkan oleh imam muslim Allahuyarham dalam shahihnya.

karenanya, seriously man, don’t mess with your mother.

—————

ini ada lagu keren dari seamo, judulnya mother

lagu ini dipergunakan sama mas danang buat bikin videonya ‘sang pembuat jejak’

berikut lyric dari lagu tersebut. liriknya dalam sekali. coba baca sambil liat videonya.

English version

Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me

Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own

Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today

(Repeat*)

I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock

But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…

(Repeat*)

Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you

 


semoga bicara kita tidak (hanya) retoris

sebuah fakta sejarah bahwa hampir semua orang besar itu pandai bicara. fakta lainnya adalah setiap orang besar itu bukan hanya pandai dalam hal berbicara, tapi juga pandai dalam memaknai isi bicaranya. bisa jadi tidak semua bicaranya itu serius, tapi pasti punya hikmah. insight. semoga ‘bicara saya’ yang berbentuk tulisan ini punya insight juga bagi semuanya.

memahami pakem ini, mungkin bagi semua orang yang ingin menjadi orang besar, belajar untuk dapat berbicara dengan baik itu penting. tetapi tetap saja bagi saya, bicara itu bukan apa-apa selain tool. nilai kegunaannya tetap ditentukan oleh orang yang menggunakannya. menjadikan saya juga harus selalu berhati-hati dalam berbicara. berbicara karena perlu, berbicara karena memang itu dibutuhkan. semua ini berdasar pada penafsiran saya yang sederhana atas semua interaksi saya dengan dunia publik, bahwa berbicara itu selalu punya dua indikator, substansi dan urgensi. substansi karena ia akan menunjukkan bobot pengaruh bicaranya. urgensi karena ia akan menunjukkan betapa pentingnya berbicara. kenapa berbicara jadi penting? kenapa tidak diam saja? karena tidak selamanya diam adalah emas.

substansi

substansi adalah satu hal penting yang sering terlupa dalam arus lalu lintas pembicaraan kita setiap hari. idealnya tentu bicara kita adalah cara komunikasi paling umum dalam menginformasikan gagasan kita bagi siapa saja yang bisa mendengar kita berbicara. bisa jadi dalam bicara kita, ada gagasan hebat. atau bisa jadi juga tidak ada gagasan apapun dalam bicara kita. itulah yang saya maksud dengan substansi bicara. pesan yang dikandung dalam bicara.

mereka yang berhati-hati, banyak yang memilih diam ketika susunan logika ucapan dan bicaranya masih mentah dan berpotensi mudharat kalau terucap. bagi saya inilah diam yang emas. diam yang terjadi karena proses olah gagasan verbalnya belum maksimal dan cuma menghasilkan bahan bicara yang rejected.

analogi sederhananya, kalaulah proses berbicara adalah manajemen operasional suatu pabrik manufaktur, penjagaan kualitasnya tentu akan terfokus pada proses pembuatan dan pengujian hasil yang punya standar baku tersendiri sebelum dilepas di pasar. karena setiap hasil produksi pabrik akan jadi bukti terdepan kualitas merek pabrikan tersebut. termasuk ucapan kita, semakin bagus substansi ucapan kita, baik maksud atau bentuk, semakin bagus pula citra ucapan kita, dan itu berarti semakin mudah gagasan kita tersebar karena citra baik tersebut. itu sebabnya, substansi bicara kita adalah prioritas utama sebelum urgensinya.

urgensi

masih tentang citra, satu hal yang ingin saya latih dalam fase hidup saya kali ini adalah mengatur intensitas bicara saya. atau dengan kata lain urgensitas bicara saya.  saya percaya, bahwa ada pengaruh yang menyebar beriringan dengan serangkaian kata yang terucap dalam sebuah ‘bicara’.  semakin banyak ucapan, semakin banyak pula pengaruh yang kita sebar, semakin besar juga citra kita sebagai penyebar pengaruh. seperti layaknya semua hal yang dapat kita ukur, seorang penyebar pengaruh akan selalu punya batasan proporsional dimana ia harus berhenti berbicara, kembali diam, karena diamnya telah kembali menjadi emas.

berbicara atau menyebar pengaruh, sama-sama cara menjadikan diri kita dalam posisi memimpin. dalam posisi ini kita harus sadar betul, existensi kita akan selalu jadi hal sensitif dimata orang lain, terutama bagi teman-teman yang belum mengetahui niat baik kita yang sering kita kenali sebagai musuh. karenanya, kita harus memahami, the man who wants to lead an orchestra, must turn his back to the crowd. begitu kata max lucado. sederhananya, untuk jadi pemimpin dalam kebaikan yang diterima semua orang itu diperlukan kesediaan mengurangi existensinya.

akhir

tujuan besarnya ialah agar setiap kebaikan yang kita pimpin dan utarakan tidak selamanya jadi bukti pamer kita yang retorika semata. tapi murni kerjasama semua pihak yang berniat baik termasuk kita. toh, ada saat dimana memang kita ‘harus’ berbicara karena substansi kita yang kuat sekali sampe peng-pengan bahasa betawinya dan urgensi bicara kita yang suda benar-benar desperately needed bahasa inggrisnya. karena memang, pemimpin itu idealnya pendiam, banyak merenung mengolah substansi bicaranya, sekaligus mencoba menjadikan saat bicaranya jadi langka dan urgent.

sejujurnya saya lupa mengatur ritme tulisan ini. maaf kalau arah tulisannya agak bersilangan. ambil saja yang baiknya. karenanya pula semoga Allah mengampuni kita -terutama saya- yang lemah lagi pelupa ini, atas setiap kesalahan lisan yang terjadi. Allahummaghfir…

_____

ada beberapa video yang saya temukan dalam pencarian saya mengenai metode berbicara. ada beberapa contoh tentang bagaimana gagasan hebat itu bisa dideliver melalui bicara. baik lewat substansi ataupun urgensitasnya.

yang pertama anies baswedan waktu presentasi soal program indonesia mengajar. thrilling.

yang kedua anis matta waktu presentasi soal program 100 pemimpin muda indonesia. ini keren juga.

yang ketiga dari jfk waktu presentasi soal program ambisius antariksa amerika yang keren banget speechnya.

yang keempat dari bung tomo waktu menggerakkan arek2 suroboyo

yang kelima dari bj habibie tentang gagasan pancasila dalam kerangka berfikirnya

yang keenam dari barrack obama soal gagasan united states dalam kampanyenya

yang ketujuh dari martin luther king jr, soal mimpinya tentang amerika yang sudah tidak rasial lagi

yang kedelapan dari malcolm x, soal persatuan diatas warna kulit untuk perubahan kondisi saat itu

yang kesembilan dari syaikh abdullah azzam soal jihad yang fardu ain.

yang kesepuluh dari soekarno ketika ngomong di depan rakyat jakarta pada saat itu. sakti memang. rakyatnya pada diem pas disuruh.

yang kesebelas dari mel gibson di film braveheart. pidato soal kebebasan.

yang keduabelas dari steve jobs, soal hidupnya yang naek turun. keren.

terakhir, yang ketigabelas dari al pacino dari film any given sunday.  fight for every centimeter..


lagi kebelet

ya Robb, jika aku benar jatuh hati, aku ingin cepat terbang hingga ke akad. hingga syetan tak sempat hinggap. buat aku kuat ya Allah. dekap aku. sibukkan lah aku jika memang sudah terjadi. jadikan aku fokus pada tujuan ku. jadikan cinta yang ada sebagai cinta yang punya nilai luhur dan penuh akan kecintaanMu. Amiin.


cinta tanpa definisi

Oleh Anis Matta

Serial Cinta

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangungan-bangungan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.

Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. la ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.

Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.

Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari sebuah kekuatan tak terkira. la jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm—dalam The Art of Loving— idak tertarik—atau juga tidak sanggup—mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya. Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada definisi memang. Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi.

Tapi inilah obrolan manusia sepanjang masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majunun, Siti Nurbaya atau Cinderella. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya.

Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan. Bukan definisi. Ia disentuh sebagai sebuah situasi manusiawi, dengan detil-detil nuansa yang begitu rumit. Tapi dengan pengaruh yang terlalu dahsyat. Cinta merajut semua emosi manusia dalam berbagai peristiwa kehidupannya menjadi sublim: begitu agung tapi juga terlalu rumit.

Perang berubah jadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta memasuki wilayah-wilayahnya. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayag-sayap Patah-nya.

Kerumitan terletak pada antagoni-antagoninya. Tapi di situ pula daya tariknya tersembunyi. Kerumitan tersebar pada detil-detil nuansa emosinya, berpadu atau berbeda. Tapi pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya yang teramat dahsyat dalam kehidupan manusia.

Seperti ketika kita menyaksikan gemuruh badai, luapan banjir atau nyala api, seperti itulah cinta bekerja dalam kehidupan kita. Semua sifat dan cara kerja udara, api dan air juga terdapat dalam sifat dan cara kerja cinta. Kuat. Dahsyat. Lembut. Tak terlihat. Penuh haru biru. Padat makna. Sarat gairah. Dan, antagonis.

Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisinya: karena—kemudian—semua keajaiban terjawab di sana.

(Majalah Tarbawi edisi 78 Th. 5/Dzulhijjah 1424 H/19 Pebruari 2004 M)


perasaan rindu

aku rindu, aku rindu

pada masa dimana pemimpin ku sendiri yang menyuapi ketika rakyatnya kelaparan

pada masa dimana pemimpin ku sendiri yang menyelimuti ketika rakyatnya kedinginan

aku rindu, aku rindu

pada masa dimana pemimpin ku menangis ditengah malam merenungi dirinya dan memohon akan kesejahteraan rakyatnya

pada masa dimana pemimpin ku menahan lapar saat rakyatnya ada yang belum makan

aku rindu, aku rindu

Juli 1913, beberapa puluh tahun sebelum kemerdekaan, tersiar kabar tentang keinginan masyarakat Belanda yang tinggal dan menetap di Hindia-Belanda untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari bangsa Prancis.

secara pribadi, bagi saya,  semua itu biasa saja, hingga muncul kenyataan bahwa para penduduk hindia belanda (baca:indonesia) di wajibkan untuk menyumbangkan harta berharga yang mereka miliki. apapun itu entah uang, entah barang.

beberapa tokoh bangsa pada saat itu, dr. Tjipto serta Soewardi, seorang aristokrat di kalangan keraton pakualaman, membentuk sebuah komite khusus yang menentang rencana tersebut.

dari komite itu sebuah buletin berbahasa belanda bertajuk Als Ik Eens nederland Was (seandainya saya orang belanda) disebarluaskan. menggebrak euforia para oranye di tanah nusantara.

pengandaian argumentatif dengan kekuatan paradigma berfikir yang kuat dan penggunaan diksi serta kutipan ekspresi yang superlatif menjadikan tulisan sang bapak pendidikan nasional ini kental akan nuansa emosi yang humanis, namun cerdas.

singkat kata, bagai melempar batu ke tengah genangan air, buletin itu menggemparkan keadaan sosio-politik saat itu. situasi berubah panas dan kontraproduktif untuk kolonialis. semua itu berujung pada pengasingan sang penulis.

berbicara mengenai semangat tulisannya –walau saya belum membacanya penuh–  sebenarnya terjadi penitikberatan pada konteks ‘ketidakpantasan’ daripada konteks kolonialis lainnya. ketidakpantasan orang-orang belanda yang telah merdeka dari perancis untuk meminta uang pada yang masih belum merdeka.

seorang Soewardi, mampu membuktikan jiwa nasionalisnya dengan mengkritik ‘ketidakpantasan’ belanda tersebut. walau ia berakhir dengan pengasingan, ia tetap berhasil membuktikan siapa dirinya, seorang nasionalis dan humanis.

januari 2010, beberapa puluh tahun setelah merdeka,  terbayang kembali sebuah berita yang mengabarkan pembelian puluhan toyota crown saloon, dengan budget 1,3 milyar per buah. padahal, disaat yang sama ada  berita mengenai pasangan muda di daerah depok meninggalkan ketiga anaknya karena tidak mampu secara ekonomi untuk mengasuh mereka. miris.

entah paradigma paradoks milik pemerintah republik INDONESIA yang serupa dengan tragedi juli 1913 itu, atau entah penjajah kolonial BELANDA telah mewariskan semuanya kepada jelmaan kolonial modern (baca:pemerintah) , semuanya sama saja. sama-sama tidak pantas. sama-sama ironi.

bagai tetesan air di tengah samudra, suara dan tulisan ini tidak akan terdengar dan –sama seperti unjukrasa lainnya– akan dianggap sampah oleh pemerintahan yang kini berkuasa. padahal kami –yang mengkritik pemerintah akan ketidak pantasan ini– hanya ingin membuktikan kadar nasionalisme pada diri kami, sama seperti Soewardi a.k.a Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan kami.

disemua kekacauan dan ketidakpastian ini kusadari sesuatu, hanya kepada Tuhan saja bisa kuajukan ini semua ini, semua perasaan ini.

Ya Allah, yang Maha Kuasa, yang memerdekakan bangsa kami, yang menyelamatkan Ibrahim dari panasnya api, yang membelah lautan agar Musa mampu melewatinya, selamatkan lah kami, bimbing lah kami, tuntaskan rasa kerinduan kami yang mendalam pada sosok pemimpin teladan nan ideal, tuntaskanlah, tuntaskanlah..

Bangkitlah bangsaku, Harapan itu masih ada!


Membangun Karakter dalam Marketing di Era New Wave

“…in the future, people can be popular in 15 minutes…”

-Andy Warhol-

Di era New Wave, tidak dapat di hindari bahwa internet telah menjadi semacam bahasan dan faktor yang umum. Terlebih ketika kehadirannya yang lebih dari sekadar rekreatif namun juga punya manfaat yang positif. Terutama di bidang marketing secara umum.

Cepat Terkenal, Cepat Tenggelam

Kehadiran internet yang dirasa amat bermanfaat ini, terus berkembang hingga dalam beberapa konteks bahasan, internet jadi amat sentral dan berpengaruh. Luar biasanya, pengaruh itu terpolarisasi ke beberapa bidang umum, seperti politik, dimana beberapa kebijakan bisa dipengaruhi oleh dinamika publik di internet dan ekonomi, dimana konsep marketing jadi benar-benar rumit karena konsumen yang kini terkoneksi satu sama lain (networked costumers).

Karena internet pula, testimoni seorang seniman tahun 1960an, Andy Warhol, jadi kenyataan. Dalam waktu yang cukup singkat, seseorang atau sesuatu dapat terkenal melalui beberapa kemungkinan yang disediakan oleh internet itu sendiri. Walaupun dalam waktu yang singkat pula, reputasinya akan hilang begitu saja.

Manusia dan Merek

Perlu untuk diingat, bukan hanya manusia yang dapat menjadi populer melalui internet, melainkan merek/brand juga dapat mendapat reputasi yang cukup baik. Melalui facebook, twitter ataupun fasilitas jejaring social lainnya, kini sarana maya ini dimanfaatkan pula oleh pebisnis dan marketer untuk menyebar pengetahuan tentang merek yang mereka jual. Walaupun, sekali lagi efeknya semu dan cepat hilang.

Lebih jauh, jika kita menghususkan perhatian pada pop marketing, dimana internet hadir sebagai media utama, maka identitas tidak terlalu ditentukan oleh nama atau ‘bungkusnya’ melainkan isi atau konten dari produk itu sendiri (karakter produk)

Karakter, Kunci Ketahanan Reputasi

“..Character is like a tree and reputation like its shadow. The shadow is what we think of it; the tree is the real thing..”

-Abraham Lincoln-

Hermawan Kartajaya sebagai salah satu pakar marketing dunia, dalam salah satu tulisannya memberikan sebuah pandangan bahwa konsep membangun merek (brand building) masih belum cukup untuk bisa menjadikan merek dari produk anda sustainable, namun diperlukan pula proses pembangungan karakter (character building).

Dengan menjadikan merek memiliki karakter, layaknya manusia, merek yang memiliki karakter (apapun itu karakternya) dapat menjadikan reputasinya punya daya ketahanan yang lebih.

Membangun karakter, jauh lebih sulit dibanding sekadar membangun reputasi. Tentunya karakter harus memenuhi criteria yang dapat menjadikannya though, yakni authentic (orisinil), contagious (cepat menular), serta warm (hangat) dimata para costumers.

Lalu bagaimana anda membangun karakter merek anda?

Referensi:

-         Crowd, marketing becomes horizontal, Seth Godin

-         Brand Tidak Ada Gunanya Tanpa Karakter, Hermawan Kartajaya

-         Era Matinya Gaya Pemasaran Lama, Hermawan Kartajaya


renungan

menahan diri dari melakukan sesuatu yang menyenangkan jauh lebih sulit dibanding memaksa diri melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.


Perubahan Iklim, Sebuah Momentum Kebangkitan

: analisis sosial atas pengaruh isu perubahan iklim terhadap masyarakat global dan Indonesia

Selama beberapa tahun terakhir, terjadi fenomena alam yang sulit untuk dijelaskan. Bahkan tidak sulit untuk merasakan adanya ketidaksesuaian cuaca dengan musim yang ada, serta temperatur umum yang semakin tinggi menyebabkan kondisi yang sangat tidak nyaman. Anehnya, hal ini pun terjadi secara global hampir di seluruh dunia.

Mungkin benar adanya, bahwa perubahan iklim telah menunjukkan beberapa gejala alaminya. Dalam sebuah jurnal yang dikeluarkan oleh Green Peace mengenai konsep penyelesaian isu perubahan lingkungan berjudul Working for the Climate, dikatakan bahwa isu perubahan lingkungan telah menjadi salah satu isu sentral dari politik internasional. Bahkan dibeberapa negara maju, permasalahan tersebut bisa jadi sangat populer.

Selain itu, dinyatakan pula bahwa pengeksplorasian sumberdaya alam yang berlebih dan business oriented merupakan penyebab utama akselarasi perubahan iklim. Permasalahan ini menjadi lebih kompleks, ketika terjadi selisih paham mengenai perumusan resolusi menghambat perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Apakah dengan penggunaan energi alternatif seperti yang diusulkan oleh beberapa organisasi lingkungan ataukan penggunaan energi nuklir dengan standar ketat seperti yang diusulkan oleh beberapa negara industri maju?[1]

Apapun perkembangan yang terjadi pasti, akselarasi perubahan iklim ini bisa jadi merupakan sebuah akumulasi dari seluruh tindak nonefektif dalam pengelolaan keadaan lingkungan selama ini. Karena iklim yang dahulunya dipahami sebagai sesuatu yang statis, kini telah menjadi begitu dinamis dan tidak dapat diprediksi.

Hilangnya Batasan Ideologi

Sebagai tindak lanjut atas isu tentang perubahan iklim yang terus berkembang secara global, lembaga internasional seperti PBB pun memberikan resolusinya sendiri.

Tergerak dari pembentukan Protocol Kyoto tahun 1997[2], PBB kemudian membentuk United Nations Framework to Convention of Climate Change (UNFCCC) yang dimulai di Nusa Dua, Bali pada akhir 2007 dan akan berlanjut terus dengan pertemuan di Copenhagen, Denmark akhir 2009. Walau kurang memuaskan, yang jelas serangkaian pertemuan tingkat tinggi tersebut telah menjadi bukti bahwa di tingkat internasional masalah mengenai lingkungan sudah menjadi permasalahan yang sangat serius.

Uniknya dalam keanggotaan yang ada, terjadi sebuah integrasi yang sulit dipahami secara politis. Dimana negara-negara yang sedang berseteru ataupun bersebrangan paham mampu menyamakan sikap atas permasalahan lingkungan ini. Dimana negara-negara berideologi kapitalis mampu bersanding dengan negara-negara berideologi sosialis.

Dengan hanya persamaan dari segi platform dalam hal isu lingkungan, seluruh negara anggota konvensi ini mampu melepas sementara identitas ideologis yang ada dan mendukung setiap rencana kebijakan UNFCCC seperti mendukung Clean Development Mechanism (CDM) serta mengkampanyekan Reducing Emission from Deforestation in Developing countries (REDD)[3] walaupun dengan permintaan pelonggaran standar.

Dalam konteks tertentu, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan isu perubahan iklim punya dampak yang sangat signifikan. Mengingat bentuk permasalahan yang ada juga bukan merupakan hal yang biasa terjadi.

Di sinilah peran isu perubahan iklim sebagai musuh bersama (common enemy) telah berfungsi dengan baik, dengan cara menghilangkan batasan dan dikotomi ideologi yang sering menjadi masalah tersendiri. Sebagai pembuktian lain, berbagai gerakan lintasnasional pun banyak yang terbentuk.

Dengan kesamaan gejala di seluruh dunia, dimana kebanyakan anggota-anggota dari gerakan tersebut merupakan anggota masyarakat yang masih berusia muda. Serta, bertambah pesatnya perkembangan beberapa organisasi lintasnegara yang sebelumnya sudah terbentuk. Khususnya dalam hal kuantitas anggota yang sangat besar dan multietnis.

Hal ini tidak dimungkinkan jika tidak adanya konsistensi para aktivis lingkungan dalam mengampanyekan isu lingkungan khususnya isu mengenai perubahan iklim.

Birokrasi Ramah Lingkungan

Di tingkat negara, fenomena akan perubahan sosial juga terjadi. Dimana yang berperan besar dalam kampanye perubahan iklim tidak hanya masyarakat serta aktivis lingkungan, namun kini juga melibatkan pemerintah.

Hal ini menanda dimana birokrasi kini telah berubah dari penghambat dukungan terhadap isu-isu lingkungan menjadi alat untuk mengkampanyekan lingkungan. Walaupun kadang dalam permasalahan lingkungan lain – diluar perubahan iklim –birokrasi tetap saja menyulitkan. Hal ini ditandai dengan giatnya pemerintahan tingkat eksekutif dan mulai terbentuknya komitmen akan penyelesaian setiap permasalahan lingkungan. Walaupun kadang masih menemukan pertentangan dengan beberapa organisasi lingkungan yang masih menganggap bahwa pemerintahan secara umum – khususnya negara-negara maju— masih ragu dalam menentukan batasan teknis.

Biar bagaimanapun, perubahan yang evolutif ini harus dijaga keberlangsungannya untuk perbaikan sistem pengelolaan alam secara global. Saya rasa tidak sulit untuk terus mengingatkan pemerintahan, dimanapun di seluruh dunia.

Demi menjaga komitmen yang mulai tumbuh. mengingat isu perubahan iklim yang bersifat menyeluruh, pihak-pihak yang bersebrangan pun akan mudah untuk melibatkan diri didalamnya. Dengan harapan di masa depan, isu mengenai lingkungan akan terus dikategorikan sebagai permasalahan yang penting untuk di bicarakan secara lebih terkonsentrasi dibanding sebelumnya di tingkat internasional.

Sama seperti sebelumnya, pengaruh ini juga tidak bisa terjadi kalau bukan karena konsistensi pergerakan aktivis lingkungan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

Iklim Berubah, Manusia Juga Berubah

Perlu kita ingat bahwa pada dekade sebelumnya, masalah mengenai pengelolaan lingkungan belum menjadi masalah yang benar-benar diperhatikan oleh masyarakat global. Walaupun pada dekade 1980-an kampanye mengenai lingkungan juga marak, namun konteks penyebabnya jelas berbeda dengan yang sekarang.

Dimana dahulu kondisi perang Vietnam dan perang dingin yang memaksa perlombaan senjata—terutama nuklir—yang menjadi penyebab, maka kini yang menjadi penyebab adalah akumulasi semua ketidaktepatan pengelolaan lingkungan yang ditandai dengan terjadinya beberapa fenomena lingkungan yang tidak biasa. Serta tidak sesuai dengan apa yang kita pahami tentang lingkungan sebelumnya.

Beberapa sosiolog bermahzab geografi dan ekologi, termasuk E. Huntington menjelaskan dalam bukunya Civilization and Climate[4], bahwa iklim walaupun termasuk faktor statis, juga mempengaruhi manusia, bukan hanya pada soal distribusi kewilayahan dimana terjadi klasifikasi daerah iklim, namun juga dalam hal sosial kemasyarakatan bahkan kebudayaan.

Melalui pendapatnya, dapat disimpulkan bahwa kondisi masyarakat secara umum memiliki keterkaitan dan hubungan dengan iklim yang ada. Tanpa disadari, kini bukan hanya iklim yang telah berubah, manusia juga mengalami perubahan. Mulai dari konsepsi sosial mengenai lingkungan itu sendiri, serta kebiasaan sosial yang mulai mengalami pergantian.

Sekali lagi, ini juga dimungkinkan dengan adanya konsistensi yang serius dari aktivis lingkungan yang telah membentuk pergerakan sebelumnya.

Isu Pemersatu yang Efektif

Seperti teori sebelumnya yang menyatakan bahwa perubahan iklim tidak hanya merubah keadaan alam disekitar kita, namun juga kondisi kemanusiaan secara sosial kemasyarakatan. Mengacu pada hal tersebut maka perubahan iklim juga perlu dimaknai sebagai sebuah momentum sosial. Momentum sosial akan terjadinya persatuan semua golongan yang berbeda.

Apapun diferensiasi etnisnya ataupun stratifikasi profesinya. Hal ini dikarenakan fungsi-fungsi isu perubahan yang begitu efektif di tingkat internasional. Seperti fungsi isu sebagai interseksi penghilang batasan ideologis serta bentuk permasalahannya yang umum, mampu menarik beberapa pihak yang berbeda latar belakang –sosial, budaya, dan ekonomi – untuk bergabung membentuk sikap yang sama.

Dalam konteks lokal, Indonesia merupakan sebuah negara dengan sifat yang begitu multikultur dan sangat rentan akan perpecahan, juga membutuhkan isu pemersatu.

Maka isu mengenai perubahan iklim ini, dapat dijadikan sebagai sebuah momentum persatuan bangsa sekaligus memacu kebangkitan generasi kepemudaan yang ada. Seperti pergerakan aktivis kepemudaan lintasnegara di bidang lingkungan yang juga berkembang pesat.

Perubahan Iklim, Sebuah Momentum Kebangkitan

Perlu diingat, bahwa posisi Indonesia dalam konvensi tentang isu lingkungan ini cukup sentral dan penting. Dimana secara ekologis, Indonesia serta Brazil dianggap sebagai beberapa negara yang mampu menjadi ‘aktor’ penyelamat dalam isu lingkungan yang ada.

Berdasarkan bekal pengetahuan dan keadaan ekologis yang memadai[5], seharusnya pemerintahan Indonesia kini harus memperbaiki seluruh tindak pengelolaan dan kebijakan pengawasan lingkungan. Agar Indonesia mampu secara benar, mendukung dan dapat memberi contoh berkaitan resolusi perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Walau mungkin tidak akan berdampak besar, karena mengingat posisi Indonesia yang lemah akhir-akhir ini akibat isu terorisme, yang jelas tindakan reformasi kebijakan lingkungan ini mungkin dapat memberikan inspirasi kepada negara-negara lainnya. Hal ini dimungkinkan, jika saja pemerintahan Indonesia dengan efektif mampu menerjemahkan isu perubahan iklim yang terjadi di tingkat global ke tingkat nasional atau bahkan daerah.

Dengan begitu Indonesia dapat bergerak secara multilinial. Akhir kata, pemerintahan serta masyarakat Indonesia – khususnya pemuda – juga harus memantapkan posisinya di mata internasional melalui sumbangan ide dan kampanye efektif terhadap isu perubahan iklim ini.

Dengan modal pengetahuan yang cukup matang dan kondisi ekologis yang sangat menguntungkan, maka tidak sulit jika kemudian Indonesia bisa menjadi negara pelopor sekaligus pemimpin perserikatan negara-negara dalam menghadapi isu perubahan iklim dimasa yang akan datang. Mungkin agak oportunis dan narsistis, namun jika kita bicara tentang lingkungan.

Sudah sepatutnya Indonesia bangkit bersatu melepas identitas politis dan ekonomi di internal negara, lalu mengambil bagian di kancah internasional. Karena isu perubahan iklim adalah sebuah momentum kebangkitan. Kebangkitan Indonesia raya.

—————-

footnote:

[1] Greenpeace International, European Renewable Energy Council (EREC). Working For The Climate: renewable energy & the green job [R]evolution, August 2009

[2] berdasarkan pada hasil dari conference of parties III yang diadakan di Kyoto, Jepang tahun. Tentang pengurangan emisi serta penanggulangan secara berkesinambungan tentang isu lingkungan

[3] salah satu butir kebijakan dari konvensi kerja perserikatan bangsa-bangsa untuk perubahan iklim (UNFCCC) di Bali, Indonesia tahun 2007

[4] Huntington, Ellsworth. Civilization and Climate. New Haven: Yale Univ. Press, 1915.

[5] hal ini bahkan jadi bahan pertimbangan diputuskannya Undang-undang No.17 tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protocol To The United Nations Framework Convention On Climate Change


ide besar nazi

Adnan mubarak, Jakarta 22 rabi’ul akhir 1430 H

Pasca perang dunia pertama, peta dunia berubah kontras. Jatuhnya daulah ustmani, pudarnya kekuatan beberapa negara kolonial pun turut mewarnai keadaannya. Namun sesuatu yang penting terjadi di jerman. Negara yang kelak akan memulai kembali perang dunia.

Nazi dan perang dunia kedua

sebagai akibat dari pelaksanaan perjanjian versailes yang pro sekutu, jerman pasca perang mengalami
masa resesi yang luar biasa. lalu tokoh-tokoh pergerakan di jerman mulai melihat ketidakjelasan masa depan jerman bila status quo dipertahankan. Puncaknya, di jerman terbentuk sebuah partai baru dengan
nama nazi yang menjargonkan perubahan keadaan di jerman.

Dipimpin oleh para pimpinan yang visioner dan inovatif, nazi mampu menggerakkan massa jerman secara masive dengan satu tujuan, yakni mewujudkan kejayaan bangsa arya di atas dunia.cita-cita yang unik namun ditunggu-tunggu oleh masyarakat jerman yang dilanda ketidakpercayaan diri akut akibat kekalahan perang. Mayoritas penduduk jerman akhirnya percaya bahwa superioritas ras arya adalah mutlak dan bisa diwujudkan bersama.

Dengan modal tersebut, nazi mampu merebut hati masyarakat jerman dan kemudian memulai perang dengan sekutu yang merupakan pemenang perang dunia pertama. Tidak berhenti sampai disitu, nazi dengan inovasi-inovasi revolutifnya mampu mencengangkan dunia dengan kemampuannya mengimbangi kekuatan militer sekutu yang gigantik.

Namun apa daya, perimbangan kekuatan militer nazi yang terjadi hanyalah euphoria sesaat. Dikarenakan superioritas di luar jerman membuat nazi lengah akan konsolidasi internal di dalam negeri. Akibatnya nazi mendapat pertentangan bahkan dari sebagian rakyat jerman itu sendiri. Hal tersebut otomatis menimbulkan situasi yang tidak menguntungkan bagi nazi dan jerman itu sendiri. akibatnya di akhir perang dunia kedua, jerman beserta nazi didalamnya harus tunduk di bawah kuasa negara-negara sekutu.

Nazi sebagai sebuah organisasi

Organisasi selalu memiliki unsur utama didalamnya yang tidak bisa di lepaskan. Termasuk adanya kesamaan ide atau cita-cia bersama. Nazi walaupun berbentuk partai, ia tetap dapat didefinisikan sebagai organisasi biasa. Organisasi yang juga pula memiliki cita-cita besar. Cita-cita atau ide itulah yang kemudian menjadi pengikat anggotanya. Menjadi determinasi kolektif nazi.

Terlepas dari ideologi yang chauvinistik, nazi merupakan salah satu contoh nyata dari sejauh mana sebuah cita-cita besar bisa menyatukan dan menggerakkan organisasi sekaligus. Entah baik atau buruk, pengaruhnya akan menggaung ke berbagai tempat. Karena dorongan yang begitu kuat untuk meraih cita-cita itu, berbagai invensi-invensi inovatif pun dihasilkan secara tidak sengaja. Memperbesar efek nyata yang dihasilkan di sekitarnya.

Karena pada kenyataan yang ada, kegunaan cita-cita dan ide bersama tidaklah sesempit prakiraannya. Namun lebih jauh, hal tersebut bisa juga digunakan untuk memberdayakan organisasi dan mengembangkannya melalui inovasi-inovasi berarti yang dihasilkan olehnya. Jadi deklarasi cita-cita atau ide besar bersama bukanlah sebuah agenda formalitas belaka melainkan salah satu bentuk strategi dalam memberikan motivasi pengembangan baik bagi individu terutama bagi sebuah organisasi. Apapun cita-citanya.

Namun ide dan cita-cita besar tidak akan pernah berkembang, jika tubuh yang menampungnya tidak sebesar idenya. Karena jika dilihat dari sejarah, ketidakpahaman itulah yang menyebabkan nazi mengalami kegagalan dalam mewujudkan ide besarnya. Ketidaksiapannya sebagai sebuah organisasi menyebabkan polemik di berbagai hal.

Oleh karena itu penting bagi setiap organisasi yang ada untuk mempersiapkan diri dengan mengembangkan konsolidasi di dalam, sejalan dengan ide atau cita-cita bersama yang dianut. kemudian bergerak teratur merentas jalan keberhasilan secara bersama-sama.

wallahu’alam bishawab


masa kerapuhan

adnan mubarak, Jakarta 28 rabiul akhir 1430 h

dua pekan menjelang batas akhir pencalonan presiden dan wakil presiden, suasana persaingan antar partai politik mulai kembali hangat. Hal tersebut ditandai dengan berbagai dinamika politik yang terjadi. Terutama manuver politik yang terkait dengan koalisi partai pasca pilleg.

Berbagai pengamat mencoba memetakan peta perpolitikan menjadi 2, yakni incumbent dan reforman. Namun kembali, berbagai intrik politik yang dilakukan partai-partai pemenang pemilu kembali membuat kondisi akhir tetap unpredictable.

ekonomi dan politik

Secara sederhana, dalam koalisi yang mungkin terjalin nanti akan ada beberapa isu penting. Yakni politik dan ekonomi. Politik dalam memberikan stabilitas politik dengan meredam protes partai-partai yang kalah pemilu. Serta ekonomi dalam menentukan arah perekonomian di tengah situasi krisis global.

Sampai pada tahap penjajakan koalisi saja, parpol sudah bisa mempengaruhi sistem politik yang ada. Karena itu koalisi mungkin merupakan salah satu kesempatan terbaik untuk merubah posisi demi tujuan pragmatis meraih suara di pilpres. namun jika kita mau melihat lebih jauh kedepan, koalisi kini bisa jadi merupakan konfigurasi politik pemerintahan kedepan. maka sudah sewajarnya berbagai gerakan koalisi partai wajib untuk di perhatikan dengan seksama agar masyarakat kedepan tidak bingung.

Semua hal tersebut mengokohkan situasi ini sebagai masa paling rapuh sebelum pembentukan pemerintahan. menentukan warna pemerintahan kedepan reliable atau tidak.

Poros ketiga

berbagai kemungkinan yang bisa terjadi ada beberapa kemungkinan yang mesti dicegah. Demi keberhasilan pemerintah dimasa yang akan datang. Salah satu nya adalah kemungkinan adanya poros baru yang akan muncul. Hal tersebut mengakibatkan kekuatan koalisi pemerintahan akan bertambah lemah. Mengapa perlu diwaspadai? Melihat berbagai fakta politik yang ada, kemungkinan untuk munculnya poros baru akan tetap ada dan semakin lama semakin besar. Disadari atau tidak ternyata faktor persamaan yang dibutuhkan untuk membentuk koalisi tidak terbatas pada platform atau program. Namun bisa juga karena kesamaan nasib pasca pemilu, menang atau kalah.

Esensi pasti yang mestinya kita pahami dalam menentukan dukungan terhadap berbagai koalisi, bukan pada banyaknya saja. Tapi sejauh mana kemungkinan koalisi tersebut mampu menyelesaikan permasalahan bangsa dengan efektif.

Economical platform

Platform politik yang identik dengan kebijakan birokrasi mungkin bisa jadi market tool yang menjual, namun harus disadari berdasarkan keadaan krisis global kini, platform ekonomi lah yang sesuai untuk diusung dan ditampilkan oleh koalisi partai yang terbentuk. Karena terbukti, permasalahan perekonomian merupakan salah satu permasalahan terberat kini melihat banyaknya penurunan kinerja pasar modal akhir-akhir ini.

Koalisi partai incumbent bisa jadi akan menyuarakan sistem perekonomian yang sama yakni lebih cenderung liberal (propasar), lalu partai reforman akan menyuarakan perubahan sistem pasar yang menuntut peran pemerintah yang lebih besar didalamnya.

kenapa perlu memandang koalisi partai dari segi ekonomi? jika anda masih ingat bahwa pecahnya kongsi partai demokrat dan golkar kemarin mampu membuat indeks perekonomian dalam negeri tertekan. hal ini mesti dipahami oleh masyarakat. apabila tidak hati-hati di bidang politik bisa jadi nanti, imbasnya bisa meluas ke bidang lainnya.

Singkat kata, dinamika persaingan parpol semakin acak dan memerlukan pandangan yang cerdas untuk menentukan sikap dan dukungan. Agar ke depan tidak akan ada lagi penyesalan karena kurangnya kehati-hatian kita dalam menentukan dukungan di pemilu presiden mendatang. karena realita sekarang menunjukkan bahwa koalisi yang terbangun sekarang bukan berbasis ideologi tapi kepentingan politik murni.

bangkitlah negeri ku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab


belajar dari china

adnan mubarak, Jakarta 29 rabiul akhir 1430 h

china bisa di klasifikasikan sebagai salah satu peradaban besar dunia. dari segi umur, china merupakan peradaban tertua, karena cina tercatat pertama kali didiami manusia purba sejak 1,7 juta tahun lalu. berbeda dengan peradaban lain, sejarah peradaban china tidak pernah terputus hampir selama 5000 tahun. pergantian dinasti ataupun bencana besar lainnya tidak mampu menjadikan peradaban china hilang. meskipun memakan korban yang tidak sedikit.

sejarah mereka yang penuh dengan pergantian kekuasaan justru membuat peradaban china sebagai peradaban yang banyak memiliki kisah besar, dari penyatuan ke tujuh negara oleh dinasti qin, perubahan jumlah kerajaan menjadi tiga (wu,wei,shu), hingga terbentuknya republik diatas kegagalan sistem dinasti di akhir dinasti qing. hal ini dikarenakan peradaban china berbeda dengan kebudayaan yunani yang bersifat utopis, namun cenderung lebih realistis, maka kemudian peradaban china tumbuh dalam tradisi yang produktif. penuh dengan karya besar.

Tembok besar china

masih teringat oleh penulis sebuah bangunan kokoh yang sering menjadi lambang kebesaran china yang tetap dipertahankan keberadaannya oleh pemerintah sosialis china. yakni great wall of china atau tembok besar china. bangunan yang punya sejarah besar didalamnya. perlambang kapasitas china sebagai peradaban yang punya tradisi produktifitas.

tujuan dibangunnya tembok ini adalah sebagai sebuah alat pertahanan negara mencegah serangan dari mongol dan dibangun selama ratusan tahun. pembangunannya sempat terhenti beberapa kali. uniknya proses pembangunannya dikelola oleh beberapa dinasti yang berbeda, yakni dinasti qin, dinasti sui, dan dinasti ming.

tidak banyak diketauhi orang, cina pernah mengalami nasib sebagai bangsa terjajah ketika kubilai khan dari mongol mendirikan dinasti yuan setelah berhasil menjatuhkan dinasti jin di akhir abad ke 13. dinasti yuan merupakan dinasti pertama yang memerintah seluruh wilayah china dengan tersentral di beijing namun akhirnya terjadi pemberontakan oleh zhu yuanzhan dari suku han (suku mayoritas di china) dan kemudian berhasil mengakhiri dinasti yuan dengan mendirikan dinasti ming.

china modern

kini china telah bertransformasi menjadi negara sosialis yang kuat. walaupun pernah terpuruk, china dengan konsensus beijingnya mampu menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi kuat skala dunia menggeser uni soviet sebagai pesaing amerika. luar biasanya, china muncul di tengah kehancuran sistem ekonomi barat yang ditandai dengan krisis global. maka lengkap lah kisah mengenai peradaban besar china.

indonesia sebagai negara yang berkembang, seharusnya mampu belajar dari china dalam beberapa hal besar yang telah china buat secara nyata. sadar atau tidak, indonesia punya banyak kesamaan sejarah dengan china.

indonesia mampu tumbuh berkembang dan masuk kedalam daftar peradaban-peradaban besar dunia. hanya jika, sekali lagi hanya jika indonesia mau untuk membuka mata dan menyadari bahwa peradaban besar tidak hanya ada di belahan dunia bagian barat.

mau membuka wawasan ilmu ke berbagai kemungkinan. karena indonesia punya unsur-unsur yang mampu menjadikannya peradaban besar, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. melihat indonesia kini begitu bergantung pada peradaban barat. indonesia mestinya bisa mengembangkan caranya tersendiri, “cara indonesia”. seperti bagaimana china menemukan caranya sendiri.

tidak terburu-buru

memang, tidak ada istilah terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. termasuk bercita-cita menjadikan bangsa ini bangsa yang besar. namun tidak ada kewajiban bagi kita untuk terburu-buru dalam mewujudkannya.

karena peradaban yang besar serta karya-karya besar merupakan hasil akumulatif dari beberapa generasi yang punya cita-cita sama. hal ini dapat kita lihat dari proses pembangunan tembok besar china yang melibatkan beberapa generasi didalamnya. untuk mewujudkannya, kita butuh usaha atau bahkan pengorbanan besar didalamnya, seperti begitu banyaknya rakyat china yang gugur dalam proses perubahan di china menuju kondisinya kini.

maka tugas besar menunggu kita di depan, untuk mengembangkan kapasitas peradaban indonesia menjadi peradaban besar yang madani dan mandiri serta memiliki kepribadian yang teguh dan independen.

bangkitlah negeri ku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bisshawab


bangsa dan moralitas

adnan mubarak, Jakarta 22 jumadil awwal 1430 h

dimasa ketika awal islam turun di mekah. seluruh dunia tengah diselimuti oleh kegelapan moral dan kemunduran peradaban. semua itu ditandai dengan betapa banyaknya budaya amoral yang bisa ditemukan pada hampir seluruh bangsa besar pada saat itu. sebuah pertanyaan sederhana muncul pada saat kita ditanya mengapa mekah dipilih oleh Allah sebagai tempat turunnya islam. padahal ada beberapa peradaban besar yang punya kemampuan pada bidangnya masing-masing.

ketiga bangsa

tidak begitu jauh dari mekah, ada sebuah bangsa besar bernama persia. terkenal dengan kekayaan sumberdaya dan kemampuan arsitektural yang mengagumkan menjadikannya termasuk salah satu bangsa besar pada masa itu.

namun dalam kehidupan mereka, bangsa persia punya suatu anggapan yang menghalalkan wanita. sehingga budaya amoral juga tumbuh disana. tidak hanya itu, mereka juga punya tradisi filosofis yang menyatakan keserbabolehan terhadap segala hal. menjadikan mereka begitu rendah. terlihat jelas bahwa ternyata kekayaan sumberdaya yang dialaminya justru menjadikan mereka jauh dari predikat kemanusiaan.

di belahan bumi bagian lain, masih ada sebuah bangsa besar lain yang punya potensi kebesaran. tidak dalam hal sumberdaya melainkan kemampuan militer yang gigantik. ialah bangsa romawi. bangsa yang merasa bahwa mereka dilahirkan untuk menguasai seluruh dunia. kemampuan mereka dalam mengekspansi kerajaannya sangat luar biasa. dalam berbagai kesimpulan, banyak ahli sejarah yang menyatakan bahwa kelebihan mereka dalam bidang militer membuat mereka cenderung arogan dan merendahkan bangsa lain. karenanya romawi turut berperan membesarkan budaya perbudakan dan penjajahan. menjadikan mereka juga termasuk dalam bangsa-bangsa yang jauh dari nilai kemanusiaan.

pada belahan bagian selatan asia, masih ada sebuah bangsa yang lumayan besar dan patut diperhitungkan, itulah india. walaupun mereka secara umum merupakan sebuah bangsa yang tidak memiliki keunggulan baik dibidang sumberdaya ataupun militer. namun bangsa india punya keunggulan dibidang kebudayaan dan filsafat yang kuat.

sayangnya, hampir sama seperti beberapa bangsa kecil diasia lainnya. india punya tradisi dan budaya yang utopis dan penuh khayalan. menjadikan mereka tidak berkembang. menjadikan mereka dahulu saling menyerang satu sama lain hanya karena perbedaan kepercayaan. sungguh ironis.

perkembangan yang tidak seimbang

ketiga bangsa diatas menggambarkan pada kita bahwa keunggulan apapun, kadang justru akan menjadikan kita jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. terlihat bagaimana ketiga bangsa besar tersebut justru terjebak pada permasalahan yang sama. mereka tidak mampu mengembangkan peradaban bersama-sama nilai-nilai kemanusiaan didalamnya. sehingga mereka tumbuh menjadi bangsa yang berat sebelah. yang berkembang dengan pesat dalam paham materialistik yang menyejahterakan namun rendah karena budaya amoral yang juga ikut berkembang. betapa menyedihkan nya kondisi peradaban manusia didunia pada saat itu.

ikut terjebak

gejala kemunduran peradaban kemanusiaan juga ikut melanda bangsa arab yang ada di semenanjung arab. mereka berperang hanya demi harga diri mereka serta kejayaan suku dan keturunan. selain itu mereka membunuh anak-anak mereka demi kehormatan. dalam segi kepercayaan, mereka terjebak pada kondisi yang penuh dengan kebodohan dan ketidaktahuan. maka tidak salah jika mereka mendapatkan predikat jahiliah.

bahan baku

namun, ada perbedaan besar antara tiga kebudayaan sebelumnya dengan bangsa arab. dimana kondisi bangsa arab walau dekat dengan persia dan romawi, bangsa ini tidak pernah dianggap punya potensi. mereka pun juga tidak punya keunggulan dan kemampuan yang superior dibanding bangsa lainnya. bahkan cenderung dipermainkan oleh bangsa-bangsa kecil disekitarnya. dapat diingat bahwa sebelum kedatangan islam, bangsa arab selalu dijajah oleh bangsa-bangsa kecil disekitarnya. seperti yaman dan habasyah (ethiopia).

diluar semua itu, menurut syaikh ramadhan al buthy*, kondisi mereka yang seperti ‘bahan baku’ ini lah yang menjadikan mereka punya potensi yang jauh lebih besar dan ternyata benar. ketika islam datang dan kemudian berkembang pada bangsa ini, perkembangan yang dialami olehnya kemudian mampu memimpin perubahan terhadap ketiga bangsa besar diatas. menjadikannya bangsa yang benar-benar terhormat di mata dunia.

harapan bagi kita

ada sesuatu yang bisa kita ambil dari hikmah ilahiyah diatas. dimana islam merupakan satu-satunya variabel yang mampu menjadikan suatu bangsa benar-benar berkembang. menjadikan bangsa tersebut tunduk dan patuh pada Allah sang Maha Pencipta dan tidak terjebak pada ‘ketuhanan’ manusia.

mungkin inilah yang belum disadari oleh para pemimpin di indonesia. bahwa asset paling berharga yang mampu mereka kembangkan untuk menjadikan sebuah bangsa ini besar adalah islam. islam yang kini hanya dipandang oleh sebagian besar orang hanya memilki dimensional vertikal. tanpa menyadari potensi horisontal yang mungkin dihasilkan olehnya.

semoga kemudian calon pemimpin masa depan bisa belajar dari sejarah bahwa hanya islam lah yang mampu hadir sebagai metode, konsepsi, paham, ideologi, dan identitas yang akan menghantarkan sebuah bangsa kepada keadilan dan kesejahteraan yang paripurna.

hanya Allah lah yang Maha Menghendaki segala sesuatunya. Dia lah yang Maha Tahu akan keadaan dan kemampuan kita. sehingga kini secara umum. peradaban manusia telah mencapai kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Bangkitlah negeriku, Harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab

—-
*) disarikan dari kitab sirah nabawiyah karya syaikh ramadhan al buthy. bab pendahuluan.


Argentum Ad Nausem

adnan mubarak, Jakarta 5 jumadil akhir 1430 h

beberapa waktu yang lalu, ada sebuah tayangan yang dihentikan penayangannya oleh KPI karena adanya pengaduan masyarakat mengenai isi acara tersebut yang dinilai tidak pantas untuk ditayangkan. ironisnya ternyata hal tersebut tidak mampu menghentikan adanya acara sejenis yang dibuat oleh saluran televisi yang lain.

periode dilemmatis

ketika masa orde baru, indonesia mengalami masa yang paling menyedihkan. dimana informasi yang disebar oleh media massa di masyarakat begitu kuat dikendalikan oleh pemerintah. tapi kini, dimana demokrasi telah menjadi sebuah alasan tak terbantahkan atas kebebasan berekspresi, media massa kini telah menjadi “terlalu bebas”.

sebenarnya, kebebasan berekspresi tidaklah buruk dalam segala hal. jika penempatannya tidak merugikan dan lebih bersifat bertanggung jawab. karena sewajarnya lingkup haknya kebebasan bergantung pada bentuk tanggung jawab yang diemban.

sebuah trend

ada sebuah trend yang melanda sebagian besar saluran televisi di indonesia. yakni munculnya acara reality show yang sifatnya mengumbar-umbar pertengkaran dan kesedihaan. dengan nama yang berbeda-beda, acara sejenis muncul di beberapa saluran televisi dengan durasi yang cukup panjang.

sebagai reaksi wajar, ada banyak pendapat masyarakat yang menilai acara sejenis memiliki beberapa keburukan dan kepalsuan maka tidak pantas untuk ditayangkan. keburukan yang dimaksud ialah cerita yang dilebih-lebihkan dan tayangan yang seharusnya tidak ditayangkan (pertengkaran dan kesedihan yang berlebihan), serta kepalsuan dari segi cerita yang agak tidak logis.

proses pembodohan?

telah menjadi rahasia umum, jika ada anggapan tentang acara pertelevisian di indonesia kini tidak mendidik, karena adanya acara tersebut. bahkan ada yang dengan mudah menyatakan adanya bentuk tayangan televisi tersebut adalah proses pembodohan bagi masyarakat. benarkah?

menurut teri gambel*, secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari.

hal seperti apakah yang akan terjadi bila tontonan yang dihadirkan media sebagai pandangan yang harusnya dipakai oleh pemirsa adalah tayangan yang tidak sesuai dan melanggar nilai-nilai kemasyarakatan?

mengacu pada acara reality show yang seperti saya terangkan diatas, maka tak khayal, ke depan masyarakat indonesia akan menganggap keadaan yang ada di reality show tersebut adalah kondisi yang ideal. naudzubillah. dengan kata lain, benar adanya telah terjadi pembodohan terhadap masyarakat.

argentum ad nausem

hal ini sejalan dengan teori joseph goebbels, yang pernah menyatakan bahwa kebohongan yang diinformasikan secara terus menerus lewat media nantinya akan diterima oleh masyarakat sebagai sebuah kebenaran. teknik propaganda seperti ini disebut argentum ad nausem**.

sangat disayangkan apabila kecenderungan dunia pertelevisian indonesia sekarang dalam kondisi yang mengarah kesana. naudzubillah.

perubahan orientasi

didalam pengantar ilmu sosiologi, media massa jika dipergunakan secara benar akan berfungsi sebagai lembaga sosial– selain hukum, sekolah, dan keluarga– yang berfungsi mengarahkan masyarakat menjadi lebih tertib dan teratur. hal tersebut dikarenakan pengaruh yang dihasilkan media massa bisa begitu efektif.

maka, perlu pengelolaan media dengan bijak, fungsi media massa yang menghibur (entertainment) juga harus memperhatikan aspek pengawasan (surveillance) secara sosial terhadap informasi yang diterima masyarakat. agar pembentukan karakter dan kebudayaan pada masyarakat bisa efektif.

dalam konteks kekinian, KPI (komisi penyiaran indonesia) seharusnya bertindak lebih agresif dalam menindak oknum-oknum media massa yang mengorientasikan media massa menjadi lebih profit oriented dan mengorbankan aspek-aspek kewajaran yang mestinya ada.

tanggung jawab bersama

karena secara sosial, pembentukan karakter masyarakat tidak hanya terjadi di keluarganya. namun juga dari beberapa sumber yang mampu mempengaruhinya.

jika kita mampu memposisikan dengan baik hal diatas, prototip karakter masyarakat indonesia masa depan, bisa kita bentuk dari saat ini. melalui sarana pembentuk yang ada, yakni keluarga, sekolah, hukum, dan media massa.

oleh karena itu, minimal perlu ada kesadaran dari lembaga pembentuk tersebut untuk merubah orientasi mereka menjadi lebih ”sosial”.

agar kedepan indonesia akan mampu menghasilkan generasi emas kebanggan dunia. generasi yang berkepribadian indonesia dalam berbudaya. yang hanya bisa dibentuk di “rumah kita”, indonesia.

bangkitlah bangsa ku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab


*Gamble, Teri and Michael. Communication works. Seventh edition.
**teknik propaganda yang sama dengan yang diterapkan pemerintahan nazi dalam memberikan “bad image” orang-orang yahudi kepada masyarakat jerman. teknik ini disinyalir sukses. dirancang oleh adolf hitler, lalu disempurnakan oleh joseph goebbels , menteri propaganda jerman masa perang dunia kedua.


understanding common will

adnan mubarak, Jakarta 21 jumadil akhir 1430 h

kepemimpinan pada sebuah kelompok adalah sebuah keniscayaan. pola ini terbentuk secara alami pada setiap entitas kebersamaan yang ada. maka secara sederhana, menjadi pemimpin dan menjadi bagian yang dipimpin adalah sebuah hal yang pasti. kadang ada permasalahan yang timbul secara internal sebagai akibat ketidakpahaman kita terhadap kelompok kita sendiri

definisi kepemimpinan

menurut M.M Chemers, kepemimpinan merupakan salah satu proses mempengaruhi secara sosial dimana ada seseorang yang dapat mengoptimalkan bantuan dan dukungannya kepada yang lain dalam memenuhi tujuan bersama*.

melalui definisinya diatas kepemimpinan punya beberapa variabel penting didalamnya, pemimpin, kelompok, dan tujuan bersama. ketiga variabel penting ini, bukan sekedar pelengkap. namun melainkan penunjang satu sama lain. ketiadaan salah satunya adalah kecacatan yang tidak bisa diterima.

tiga variabel

kepemimpinan tanpa ada definisi kelompok yang jelas hanyalah retorika tak berkekuatan, kelompok tanpa adanya sosok pemimpin adalah komoditas berharga yang rawan exploitasi, dan kepemimpinan (kelompok dan pemimpin) tanpa adanya tujuan bersama hanyalah kumpulan manusia tanpa ujung dan arah.

dengan kata lain, perlu ada sinergitas untuk menciptakan kondisi ideal. kondisi dimana kepemimpinan benar-benar mampu memberikan optimalisasi daya guna kelompok dalam meraih tujuan bersama (common will). kenapa sinergitas? karena ketiga variabel ini sangat lah berbeda satu sama lain.

menjadi pemimpin tidaklah sama dengan menjadi yang dipimpin. serta posisi tujuan bersama yang kadang dilupakan dan bahkan hanya dijadikan slogan kebersamaan tanpa sadar akan potensi efektif yang dimiliki olehnya.

hambatan realistis

ironisnya kadang perbedaan antara ketiga variabel ini disalahartikan dan menjadi penyebab permasalahan umum dalam sebuah kelompok yang terpimpin.

secara nyata, kadang kita menemukan kelemahan yang unik dan biasa terjadi dalam sebuah kepemimpinan, yakni pemimpin yang dirasakan oleh kelompoknya kurang ‘membumi’ sehingga mengakibatkan kelompoknya tidak taat terhadap pemimpin yang telah kehilangan legitimasi tersebut.

sebenarnya, kedua gejala umum diatas saling berkaitan dan dapat diselesaikan melalui penggunaan konsepsi tiga variabel (pemimpin, kelompok, dan tujuan bersama) sebelumnya.

memahami permasalahan

menarik jika kita dapat mengambil sudut pandang yang menyeluruh dalam melihat problem diatas.

sebagai seorang pemimpin, kita mungkin akan memiliki keyakinan yang besar akan otoritas kita dalam kelompok, namun lupa bahwa otoritas (authority) tersebut hanya exist ketika kelompok yang kita pimpin sepakat dalam hal tersebut. sehingga dalam perpanjangannya, pemimpin tersebut akan kehilangan rasa kepedulian terhadap kelompok yang dipimpinnya. menjadikannya buruk dalam pandangan kelompok.

begitu juga sebaliknya, begitu kita berfikir sebagai bagian dari kelompok yang dipimpin oleh pemimpin yang telah kehilangan otoritasnya (secara sepihak) kita akan kehilangan semangat untuk mengikutinya, mendengarkan perkataannya, apalagi menjalani instruksinya. tanpa sadar bahwa sebenarnya pemimpin tersebut tidak mengerti apa yang kita alami sebagai yang dipimpin.

akumulasi kedua permasalahan diatas adalah ketidaksinergian antara pemimpin dan yang dipimpin. secara substansi, kelompok ini hanyalah terikat secara formal (jika itupun ada) namun berpecah didalamnya. hanya butuh satu guncangan kecil untuk meruntuhkan fondasi kebersamaan yang ada. naudzubillah. betapa rapuhnya kesatuan yang ada.

saving procedures

pada titik ini, variabel ketiga yakni tujuan bersama, bisa menjadi sebuah ‘paket penyelamatan’ kelompok yang rapuh ini.

karena dalam sebuah entitas kebersamaan, sering kita temukan adanya perbedaan persepsi serta permahaman. maka secara singkat dapat kita artikan bahwa perbedaan yang ada dan terbentuk termasuk pandangan antara masing-masing variabel adalah hal yang wajar.

butuh interseksi yang bisa menjembatani perbedaan ini, tidak lain hal tersebut adalah tujuan bersama. disadari atau tidak, pemimpin serta yang dipimpin punya kesamaan yakni, sama-sama punya kepentingan untuk meraih tujuan bersama.

how ‘common will’ works?

yakni tujuan bersama yang bisa memaksa pemimpin menuruti kelompoknya (demi tujuan) agar legitimasi nya sebagai seorang pemimpin kembali. membuatnya bisa lebih diterima oleh kelompoknya.

serta bisa pula memaksa yang dipimpin untuk memahami ketidak pengertian pemimpin tersebut hanyalah bagian dari akibat gaya kepemimpinan yang alami, yang manusiawi**. selanjutnya, tujuan bersama akan memaksa kelompok yang dipimpin untuk mengembalikan otoritas sang pemimpin, karena kebutuhan mereka akan kepemimpinan dalam meraih tujuan bersama.

masa sesudahnya

satu hal yang mesti diperhatikan, bahwa konsepsi mengenai common will ini juga berlaku pada skala yang besar selama masih terdapat ketiga variabel sebelumnya. seperti organisasi siswa, perusahaan, ataupun negara secara umum.

setelah semuanya, kita mesti memahami bahwa tantangan kelompok secara kolektif telah berubah menjadi bagaimana kita menumbuhkan sikap keterikatan yang saling pengertian dan kekeluargaan.

dengan kata lain, entitas tersebut sudah mencapai level yang berbeda dengan sebelumnya. menjadi lebih kuat dan lebih solid.

bangkitlah bangsaku, harapan itu masih ada!

wallahu a’lam bishawab

*Chemers, M. M. (2002). Cognitive, social, and emotional intelligence of transformational leadership: Efficacy and Effectiveness. In R. E. Riggio, S. E. Murphy, F. J. Pirozzolo (Eds.), Multiple Intelligences and Leadership.}
**ibid


faktor sinergitas ummat

tsiqah

Dalam struktur jamaah da’wah tentu ada pemimpin (qa’id) dan ada yang dipimpin (jundi). Keduanya harus memiliki tsiqah yang sehat secara timbal balik. Bagi para anggota, tsiqahnya adalah ketenangan hati kepada pemimpin (tsiqah bil qiyadah). Sikap ini tak akan lahir dari doktrin semata. Loyalitas anggota pada pemimpin, terbentuk dari sentuhan dan interaksi seorang anggota secara langsung kepada pemimpinnya, hingga tumbuh keyakinan akan kebersihan niat, kualitas moral, kapasitas pemikiran, dan keluasan wawasan pemimpin.

Sebaliknya, seorang pemimpin juga harus memiliki rasa tsiqah kepada para anggotanya. Para pemimpin harus percaya terhadap keikhlasan, kapasitas, kualitas, dan komitmen anggotanya. Tsiqah secara timbal balik seperti ini (tsiqah mutabadilah) yang akan memelihara kekuatan struktur da’wah karena dikendalikan oleh al-qaid al-mautsuq bihi wa jundi al-muthi (pemimpin yang dipercaya dan anggota yang taat).

Mengamalkan rasa tsiqah, membutuhkan kesabaran yang besar. Utamanya bila ada ketidakcocokan seorang anggota jamaah da’-wah dengan kebijakan pimpinannya, atau kebijakan da’wah secara umum.

Melontarkan gagasan, ide atau usulan merupakan sikap positif, sepanjang dilakukan secara proporsional dan benar. Namun, tak mesti sampai merasa hanya pendapatnya yang paling benar. Atau, boleh jadi benar, tapi jama’ah da’wah belum bisa menerimanya karena berbagai hal yang menghalangi penerapannya. Seperti kemampuan jama’ah yang terbatas, atau karena sedang memfokuskan perhatian pada masalah lain yang lebih penting.

Struktur jama’ah da’wah yang solid bukan berarti menolak sikap kritis. Sikap kritis dalam jama’ah da’wah adalah sikap kritis untuk hal-hal yang tidak ada wahyunya atau yang telah menjadi hasil syura.

karena itu, sikap yang mesti dihindari ialah adanya faqdus tsiqah (kehilangan kepercayaan) dari qiyadah kepada para jundinya.

ukhuwah

ukhuwah atau yang ditransliterasikan secara sederhana sebagai ikatan persaudaraan ini, bukan hanya ikatan yang bersifat ‘alamiah’ melainkan merupakan sebuah fitrah. fitrah bagi setiap muslim untuk menjalin ikatan persaudaraan yang dalam atas dasar islam. ikatan ini begitu kuat dan mampu berada diatas semua ikatan lain yang sifatnya lughawi (tidak memiliki nilai di hadapan Allah swt).

ukhuwah kemudian akan menghasilkan rasa kebersamaan. rasa kebersamaan yang terus dipertahankan kemudian akan mencapai puncak ketika munculnya itsar (rasa berbagi). ketika seorang muslim mau berbagi apa saja dengan muslim lainnya karena ikatan persaudaraan yang begitu kuat. hal ini telah dicontohkan oleh para sahabat.

apa yang mendasari ikatan tersebut ialah identitas muslim yang kolektif, karenanya hal tersebut (ukhuwah ) tidak membutuhkan interseksi atau titik kesamaan lain untuk menjadikan nya sebagai sebuah komunitas. karena islam itu sendiri juga merupakan identitas kebersamaan ukhuwah islamiyah.

amal jama’i

bertindak secara pribadi (individual) tentunya akan menghasilkan akibat yang berbeda dengan tindakan yang dilakukan secara berkelompok (kolektif). tindakan kolektif ini bisa disamakan dengan amal jama’i. dari konsep yang hampir sama ini, amal jama’i punya nilai lebih, yakni adanya unsur ‘amal’ yang dikedepankan. tindakan kolektif mungkin bisa berarti tindakan apa saja (terlepas baik dan buruknya). maka amal jama’i adalah amal yang dilakukan secara kolektif. dengan begitu ada nilai/hikmah kebaikan yang bisa diambil darinya.

tentu saja, konsep mengenai amal jama’i ini tidak lah kuno dan kaku. didalamnya dituntut keefisiensian dari kinerja partisipan dan juga sistematika tahapan. contoh sederhana, dalam sebuah kepanitian kegiatan amal ada yang bertindak sebagai perencana (planner), pelaksana (eksekutor), dan pengawas (supervisor).

mengacu pada konsep sebelumnya, maka hal diatas bisa digolongkan sebagai sebuah implementasi sederhana amal jama’i. yang perlu dipahami ialah bentuk amal jama’i adalah sebuah konsep. maka lingkup kerja dan ukuran yang dipakai bisa disesuaikan dengan realita yang ada. bisa jadi lingkup kerjanya adalah lingkungan sekolah, atau pun satu negara atau bahkan sedunia.

ruhul istijabah

ruhul istijabah (semangat menjawab seruan) adalah salah satu sikap yang ideal bagi seorang aktivis dakwah, hal tersebut menunjukkan kualitas aktivis secara komprehensif dan menyeluruh. baik dari segi militansi dan kepekaan akan lingkungan sekitar.

hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan dari Allah dan Rasul….(QS, 8:24)

berdasarkan dalil naqli diatas, ada kalimat yang mewajibkan yang sama seperti dalil yang menyerukan untuk berpuasa di bulan ramadhan.yakni kalimat ‘hai orang-orang yang beriman’.

perlu digarisbawahi, dakwah islam yang matang tidak hanya membutuhkan konsep, sistem, dan prinsip yang memadai tapi kualitas aktivis dakwah yang optimal sebagai penggerak bukan hanya alat.

bangkitlah bangsaku, harapan itu masih ada!

wallahu alam bishawab


Islamic Physicists Surpass Their Era

by Dr. Fahmi Amhar
(Head of Geomatics Research Bureau, National Coordinating Agency for Surveys and Mapping – Indonesia)

Moslems believe that any knowledge comes from God, and Qur’an is His Saying. Hence, as the source of knowledge, Qur’an is surely correct. So, what about knowledge regarding matter, energy, space-time and interaction of objects in this world, which often called as “physics”?

Some Moslems significantly say “Yes.” Hence emerge the term: “Islamic physics”. This is a number of theories or more precisely “hypotheses” from a physical law claimed by them “founds” in Qur’an. As an illustration, there is three examples here: (1). Theory that earth is the center of solar system (geocentric), even the universe, since Qur’an have never mention any verses (ayat) that expressing earth to revolves, but the sun, month and star are revolving the earth (QS 13:2, 14:33). This theory also supported by a notable Sheik from Saudi Arabia, that giving his religious advices that believing to heliocentric theory can plunge some one into heresy. (2) Theory that assert lodestone (magnetic iron) serves the purpose of energy generating which has no ending. This theory base on QS 57:25, expressing that God create iron which has a super strength in it. They (this theory proponents) interpret the strength as energy. (3) Theory about seven atmosphere layers, because Qur’an tell that rain fall from the sky (QS 35:27) meanwhile God was created seven skies (QS 41:12), so they interpret the rain happened at first sky layer.

Considering those theories and claims, they likely repeat what which been done by the mutakalimin (philosophy lover) in the past, that searches for a conclusion only based on assumption, even if the assumption comes from a Qur’an verse that interpreted subjectively. Of course, the mutakalimin way of thinking has never yield any real scientific breakthrough, let alone usable for practical matters.

The Moslem physicists in the golden era of Islam were people who educated from beginning of with basic Islamic tenets (aqidah). Typically, they have memorized Qur’an before reaching mature age (baligh). And they firmly comprehended that the nature has her own objective laws, that can be revealed when they conduct observation and research patiently and cautiously.

Ibn al Haytham (al-Hazen) was the pioneer of modern optics when he published his book in 1021 AD. He founds that the seeing process is about the fall of light into the eye, not because of the strength of eye-shaft as believed by people since Aristotle’s era. In his book, al-Haytham showed various means to build simple binoculars as well as simple camera (camera obscura).

It is interesting to know that al-Haytham did his optical experiment at the time of his house arrestment, after he failed to fulfill the duty from the Egypt Governor (Egypt Amir) to realize the Nile river dam project. Then, he was released after the Amir discovered that al-Haytham optical inventions were equal with his investments.

Ibn al-Haytham also the pioneer to starts a tradition of scientific method to test a hypothesis. It was 600 years precedes Rene Descartes, which assumed by others as the father of European Scientific Method in Renaissance era. The ibn al-Haytham’s scientific method started from empirical observation, formulation of problems, formulation of hypotheses, hypotheses tests with experiments, analysis of experiment results, data interpretation and conclusion formulation, and ended with publications. This publication then assessed by peer-review that enabling every people to traces and, when needed, repeats what have been done by a researcher. Peer review processes had become a tradition in the medical world since Ishaq bin Ali al Rahwi (854-931 AD).

Ibnu Sina also known as Avicenna (980-1037 AD) had agreed with the concept of the limitation of light velocity. Ash Rayhan al-Biruni (973-1048 AD) also founds that light far quicker from voice. Qutubuddin al-Syirazi (1236-1311 AD) and Kamaluddin al-Farisi (1260-1320 AD) gave the first correct explanation about rainbow phenomena.

In mechanics, Ja’far Muhammad ibn Mozes ibn Syakir (800-873 AD) hypothesized that celestial objects and “sky layer” are subject to the same physical laws, same with the earth.

Al-Biruni and latter al-Khazini developed experimental method in statics and dynamics, then also hydrostatics and hydrodynamics, that really important in constructing a bridge, barrage (dam), and ship.

In 1121M, al-Khazini in “Book of the balance of wisdom” suggested that gravitation and its potential energy changes, depends on the distance from the center of earth. He also explicitly differentiated between force, mass and weight. This invention is useful in constructing waterwheel.

Ibnu Bajah (Avempace) that passed away in 1138 AD argued that there will always be a reaction in every action. This theory is very influential in physics, including for Galileo and Newton, and hardly useful for calculating the strength manjaniq, which is a giant catapult that cannon alike.

Hibatullah Abu’l-Barakat al-Baghdadi (1080-1165 AD) disagreed with Aristotle that said a constant force will yield a uniform motion, when he wrote in his book al-Mu’tabar that a constant force will yield acceleration (acceleration). Accordingly, acceleration is the average of velocity alteration.

Ibnu Rushd also known as Averroes (1126-1198 AD) is a mujtahid (learned scholar of Islamic sciences) in fiqih (Islamic law) and also a physicist, in one of his book he defined force as certain level of works which must be done to change kinectical condition of an dilatory object. So, Ibnu Rushd work is earlier 500 years from Newtonian classical mechanics.

All these illustrations indicates that Physical Islam –if there is one– is a physics that has passed a series of scientific method, which then proved to be applicable to practice. Physics as empirical science can be achieved by every researcher that posses passion on it, without reference to his/her faith. Factual truth of physics is not necessarily be supported by Qur’an and will not perturb any Qur’an verses or the other way, since both of them have different realms. Impelling that a physical fact fits in with a verse or the other way, in fact shows the poor understanding, in terms of the physical fact, or the contents of Qur’an it self. And all of these have never been experienced by the physicist in Islamic golden era.


long time no post

hart to say but after long time of waiting this moment. saya sangat bahagia karena bisa kembali mem-post-ing kembali semua ide-ide dan gagasan saya dalam blog ini.


analisis sederhana mengenai peran pelajar

adnan mubarak, jakarta 23 muharram 1430 h

menanggapi komentar mengenai pertanyaan sederhana dari salah seorang pembaca sebagai berikut:

Nan, blh request g nih?
Gue pengen tahu hal2 apa aja sih yang bisa kita lakukan sebagai pelajar muslim indonesia.
Syukron…

melihat pertanyaan itu pun saya mulai mencoba menggali beberapa cara yang dapat dipergunakan oleh pelajar muslim indonesia dalam menghadapi konflik palestina-israel.

Syarat-Syarat Awal

Sebelum memulai perjuangan, agar kesemuanya tidak sia-sia diperlukan perencanaan dan persiapan yang matang.

Pertama, mengetahui segala aspek permasalahan mengenai pendudukan palestina dan mengambil sudut pandang yang realistis juga rasional merupakan salah satu syarat awal dan tantangan terberat dalam menjalani dakwah dari lingkup pelajar.

Kedua, selain mengasah kemampuan berfikir, membentuk kepribadian yang mandiri, pemberani dan bermilitansi tinggi melalui metode yang islami agar mampu menunjang keseimbangan penggunaan hati dan akal adalah syarat lain dalam memulai perjuangan.

Ketiga, yang terberat kemudian, ialah mencontoh dan mewarisi kemampuan diplomasi internasional dari para pahlawan bangsa Indonesia yang mampu membuat sejarah mengenai Indonesia di luar negeri begitu luar biasa.

Mengukur Lingkup dan Kemungkinan

Mengetahui batas lingkup dan perihal kemungkinan hasil dari perjuangan adalah hal yang agak sulit untuk diprediksi. apalagi dalam pemegangan peran penggerak adalah dari golongan pelajar muslim indonesia. Tapi memperkirakan hal yang bisa terjadi, merupakan salah satu hal yang bisa menjadi ukuran agar perjuangan melalui jalur ini lebih terarah.

Menghadirkan keunggulan dari golongan ‘pelajar muslim indonesia’ bukanlah hal yang sulit. Jumlah yang luar biasa banyak dan membanjir nya organisasi wadah pergerakan yang mewarnai kehidupan muslim pelajar di berbagai daerah pun telah membuktikan kualitas yang lumayan mapan.

Mengganti lingkup perjuangan pelajar muslim indonesia menjadi tingkat internasional pun bukan sebuah khayalan, kemampuan komunikasi dan begitu luasnya sarana yang dapat digunakan menjadikannya tidak sesulit yang dibayangkan dahulu.

namun nilai penjagaan istiqomah, penguatan azzam dan kesigapan dalam persaudaraan lah yang harus tetap berdiri kokoh dalam setiap hati pejuangnya. agar kehadirannya tidak musiman dan tidak lemah di mata dunia. mampu memberikan pengaruh didunia khususnya bagi kaum muslim.

Cara-cara Konkret

Secara sederhana, saya menyarankan beberapa cara konkret dalam membantu palestina. Berdoa dan terus meningkatkan keimanan adalah kewajiban yang diperlukan sebelum memulai untuk memantapkan hati dalam menghadapi segala kemungkinan terburuk.

Pertama, Menyebarkan dan juga memberikan pemahaman yang manusiawi dan rasional mengenai pendudukan palestina pada lingkungan sekitar.

Kedua, Memulai membangun atau membentuk jaringan sosial ataupun ilmiah yang bertujuan untuk mengkaji dan menggali informasi tentang palestina. serta secara sepakat menentang penjajahan atas tanah palestina.

Ketiga, Terus menyisihkan uang saku anda tanpa henti, baik ketika lapang ataupun sempit, sebagai bentuk kepedulian kita yang tidak main-main.

Keempat, Mempergunakan kemampuan seorang akademisi dalam membantu palestina. seperti: menulis artikel, berorasi, mengajak diskusi, mendengar pendapat, menganalisis masalah, dll.

Kelima, Mengikuti aksi-aksi solidaritas terhadap bangsa palestina untuk menyadarkan bahwa kita tidaklah sedikit.

Keenam, Memberikan pembelaan (hujjah) atas cemoohan dan perilaku para penentang solidaritas palestina.

Ketujuh, Tetap berusaha penuh memboikot segala produk yang memberikan support ke israel.

semua itu insya Allah bila dijalankan secara konsisten dan penuh kesungguhan maka pencarian akan hasil maksimal pun bukan hal yang sulit dicapai.
wallahu alam bishawab


ganti tema

gw berfikir untuk memulai sesuatu yang baru mulai dari ‘giving your new look’ kepada semua orang, karana gw ingin sekali nge-reNew-ing in blog makana gw ganti tampilan deh. hahaha.


waspadai disorientasi dukungan ke gaza

adnan mubarak , Jakarta 19 muharram 1430 h

setelah beberapa minggu masa penyerangan militer israel zionis ke gaza. dapat kita amati kondisi dan sikap di beberapa negara di dunia cukup beragam, ada yang menolak invasi, membiarkan invasi, dan bahkan mendukung invasi (naudzubillah)

dalam setiap kebijakan dan pernyataan sikap mereka pun dilandasi oleh berbagai pertimbangan dan kepentingan. entah atas dasar sosial, ekonomi, dan politik.
sikap internasional yang terwakilkan oleh PBB tetap menolak invasi namun terkesan setengah-setengah. jadinya PBB tak bisa diharapkan.

Indonesia pun berada dalam blok negara penentang invasi, namun didalam negeri sikap pemerintah sungguh sangat ‘jahat’. ketika bapak presiden mengomentari wacana pengiriman sukarelawan jihad ke gaza oleh beberapa ormas dengan sebutan langkah gegabah. sungguh keterlaluan jika niat yang mulia dianggap sebagai sebuah kecerobohan.
dalam pelaksanaan pemerintahannya pun pemerintah kita tidak terlalu concern dengan konflik palestina israel. maka, adakah yang sebenarnya mungkin melatarbelakangi sikap pemerintahan ini terhadap gaza selain alasan kemanusiaan?

Indonesia negara dengan ketergantungan akan energi (60% minyak indonesia ialah impor) juga punya sikap yang membingungkan. setelah sebelumnya mengecam dan mengirim bantuan ke gaza. indonesia ikut tenggelam dalam euphoria turunnya harga minyak internasional hingga dibawah USD $ 60 per barrell. bahkan kelihatannya pemerintahan yang sedang berkuasa mulai mejadikannya isu tebar pesona. sebagai bentuk keberhasilan menurunkan harga BBM. namun pemerintahan pun masih gelisah ketika menyadari bahwa sesungguhnya konflik di gaza kini bisa jadi akan mengembalikan harga minyak dunia kembali di atas USD $ 100. jika tidak cepat di hentikan.

jika hal tersebut terjadi, maka kemungkinan besar sikap para politisi israel akan menyebar ke indonesia, memanfaatkan gaza hanya sebagai isu politik. sungguh ironis!

beberapa masa yang akan datang, Indonesia akan dihadapkan pada sebuah agenda politik nasional bertajuk pemilu. tak khayal, berbagai partai politik pun punya ‘sikap’ tersendiri dalam menanggapi invasi gaza. banwaslu selaku lembaga yang berwenang atas pelaksanaan pemilu yang sehat, adil dan bersih pun mulai mencurigai sikap berbagai partai politik.

mungkin tidak salah bagi banwaslu untuk mencurigai partai politik yang sering mengadakan aksi palestina (walaupun sebenarnya tuduhan tersebut tak berdasar) karena memang tugasnya untuk menjaga agar pemilu tetap fair. tapi dapat menjadi pertimbangan untuk banwaslu mengenai semangat solidaritas bangsa indonesia bisa dikatakan dihargai rendah oleh pemerintah diwakili oleh banwaslu.

untuk partai politik tersebut (sebut saja PK-Sejahtera no.8) agar mampu menarik kesimpulan dari sikap pemerintah-pemerintah dunia dan asas2 mereka yang mayoritas utilitarian, maka selayaknya kita tidak berhenti hanya karena halangan kecil dan kondisi yang menekan. karena niat kita yang mulia, menyelamatkan para korban invasi gaza dari tirani kaum yahudi zionis yang dimurkai oleh Allah azza wa ja’alla. bersihkan niat, rapatkan barisan, dan dukung terus palestina.

bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!

wallahu’alam bishawab


Agresi gaza, tanda kebuntuan PBB

Adnan Mubarak, Jakarta 15 muharram 1430 h

pada masa2 setelah perang dunia ke 2 telah berakhir, terbentuklah sebuah organisasi tingkat dunia yang didirikan oleh negara2 pemenang perang (sekutu&amrik). dipublikasikan memiliki tujuan umum yang mulia, yakni menggalang negara-negara di dunia untuk menjaga perdamaian dunia.

itulah PBB, sebuah organisasi penerus liga bangsa-bangsa (LBB) yang sebelumnya pernah memberikan mandat kepada britania raya untuk mengadministrasikan wilayah palestina dikarenakan kekhalifahan ustmani mengalami kekalahan pada perang dunia kesatu.

namun kekecawaan berat negara-negara muslim terjadi ketika kemudian PBB secara sepihak memberikan pembagian atas wilayah palestina. walau hanya berpenduduk 30% dari total penduduk palestina, kaum yahudi mendapatkan wilayah sebesar 55%. dan kota yerusalem (al Quds) dinyatakan sebagai wilayah internasional.

serentak pada sehari setelah amerika dan sekutunya mengakui kemerdekaan israel (padahal masih belum memiliki batas wilayah yang jelas) negara-negara muslim di sekitarnya pun memperlihatkan aksi konfrontasi secara militer berbentuk perang. namun karena dukungan materi dan peralatan militer yang cukup deras dari negara-negara sekutu. peperangan pun akhirnya dimenangkan oleh israel. bahkan kemudian secara tidak manusiawi mengusir penduduk palestina dari kampung halamannya dengan mencaplok 70% bagian wilayah palestina.

sungguh tragis dan ironis, bagi bangsa palestina. kampung halaman mereka tercinta, telah dijajah dan di permainkan di lingkup internasional.

kini, organisasi sebesar PBB (dengan 192 negara anggota) terkesan ‘melempem’ ketika dihadapkan pada invasi gaza. keterdiaman inipun ternyata mampu menular. negara-negara di dunia hanya bisa mengecam tanpa mampu memanfaatkan pengaruhnya secara politik (ex :pemutusan diplomasi), ekonomi (ex :embargo) ataupun militer (ex :pengiriman pasukan).

tiap kali dunia dilanda masalah kemanusiaan, entah di rwanda, timor, lebanon kerap kali PBB menjalankan tugasnya dengan baik, namun khusus untuk palestina karena pemberian hak istimewa pada beberapa anggota, PBB tidak mampu memberikan solusi apa-apa.
bahkan telah jelas bahwa PBB telah gagal dan bahkan merupakan pihak yang memulai seluruh konflik palestina (coba liat di atas).

sebagai seorang pemuda indonesia, saya mengharapkan agar negara ini mau untuk mengulang sejarah, dimana indonesia adalah negara pertama di dunia yang menyatakan keluar dari keanggotaan PBB karena sikap PBB yang begitu berpihak pada barat.

mungkin jika hal itu terjadi (indonesia mau keluar dari PBB) kemungkinan didepan ialah kepercayaan akan negara-negara anggota diluar barat pun akan menurun dan pada akhirnya mau tidak mau, PBB harus bubar karena alasan yang cukup rasional yakni gagal menjalan kan tugas utama, menjaga perdamaian dunia.

wallahu alam bishawab


kupas tuntas brigade al qassam

adnan mubarak, 13 muharram 1430 h

berbagai berita dan laporan mengenai serangan militer israel ke gaza masih terus berlangsung.korban sipil yang jatuh hingga saat tulisan ini di buat mencapai 800 orang. sudah selayaknya kita mengetahui seberapa besar kekuatan sang penyerang hingga korban begitu cepat bertambah tiap waktu.

israel dilaporkan sebagai negara dengan kekuatan paling tangguh (katanya). 200 rb infanteri bersenjata lengkap, 2800 tank merkava, 380 helikopter serbu, 800 pesawat m16 tipe bomber, dan1870 artileri siap tembak (on load) menjadi bukti akan kebesaran militer israel zionis tersebut. selain itu mereka memiliki badan2 militer khusus lainnya seperti mossad, shin beth, sayerat matkal. yang punya rating cukup tinggi dalam bidang spionase internasional.

sekilas dengan semua kelengkapan dan kebesarannya militer israel. tak akan ada musuh yang mampu dan cukup tangguh untuk melawan israel. namun semua itu terbantahkan ketika israel memulai serangan tahap 2 (darat) mereka dipukul mundur oleh pasukan yang dikenal dengan keluarbiasaan moral dan kemampuan dalam berbagai bidang. dan dengan susah payah israel (dibantu amerika) mencoba menutup2inya.

itulah brigade izzudin al qassam, sayap militer dari hamas. dalam peperangan mereka ditakuti oleh setiap musuh. dalam keseharian mereka mengajar di madrasah, ikut menanam bibit zaitun bersama rakyat palestina, menjadi profesional dalam pekerjaannya masing2, dan menggali jalan2 rahasia di perbatasan agar rakyat palestina tak menjadi kelaparan akibat blokade israel selama 2 tahun terakhir.

dalam perekrutannya, para recruiter al qassam menerapkan standar ketat. pemuda yang tidak pernah ketinggalan solat subuh berjamaah menjadi syarat awal. dan semua masyarakat palestina pun mengetahui bahwasanya para al qassam merupakan penghapal qur’an, penghapal 40 hadits arbain, pelaksana puasa sunnah, dan pembaca qur’an min 1 juz per hari.

keunggulan mereka tak hanya ditunjang oleh keimanan dan akhlak yang luar biasa tapi juga dalam hal kemampuan. dalam latihan nya, pola yang diterapkan ialah pola latihan nizam khash (biro khusus) IM mesir. yang didalamnya menuntut para mujahidin untuk ahli dalam beberapa hal sperti:bela diri, senjata api, perang gerilya, bom dan bahan peledak, topografi, menyelam, serta infiltrasi (penyusupan) militer, sandi,mereka pun bahkan telah dibekali segala pengetahuan mengenai militer israel.

kesemuanya diperlengkap dengan azzam dan ghiroh yang luar biasa. walau tidak ditunjang dengan persenjataan layaknya israel, tapi gemanya mampu membuat dunia tercengang, hal ini dikarenakan mereka yakin bahwa faktor ‘langit’ juga menentukan yakni Allah sebagai Yang Maha Perkasa mampu untuk menjatuhkan segala musuh-musuhnya.

pertanyaannya,seperti itukah teroris? sperti yang digemborkan oleh amerika dan sekutunya. telah terbukti sekarang bahwa pernyataan sepihak itu hanyalah bualan belaka.

wallahu alam bishawab


kita tidak akan mati jika tidak minum coca cola!

adnan mubarak, 12 muharram 1430 h

selayaknya kitapun mengetahui bahwa peperangan, invasi, agresi, serangan militer yang dilancarkan oleh israel bukanlah hal yang murah secara ekonomi.

begitu banyak helikopter, begitu banyak pasukan bersenjata lengkap, begitu banyak tank2 merkava canggih, begitu banyak pengeluaran yang sifatnya destruktif bagi palestina, dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan logis mengenai kekuatan militer israel dibangun dari biaya yang tidak murah sama sekali.

semua itu berasal dari kas negara israel yang diisi dengan pajak2 perusahaan internasional yang kebanyakan telah merajai pasar global. sebut saja coca cola company, mcdonald, dan berbagai merek terkenal yang sudah menjadi sebuah adiksi dalam kehidupan kini. sebuah adiksi yang benar2 membuat ketergantungan, hingga dalam penyeruan untuk pemboikotan nya pun menghadapi kritikan pedas, sampai pada akhirnya publik tidak menyadari bahwa cara ini (boikot) merupakan sebuah cara efektif.

jika kita berfikir logis tak ada satupun kewajiban ataupun himbauan untuk membeli dan menggunakan barang2 tersebut karena mungkin saja uang yang kita keluarkan untuk membeli barang, disana sudah digunakan dalam bentuk yang berbeda yaitu dalam sifat yang lebih ekstrim yaitu pembantaian dan genosida terhadap bangsa palestina.

maka sadarilah jangan sampai pada kesempatan umum kita membela palestina, namun pada dasarnya kita telah membantu mereka membunuh dan menjajah bangsa palestina ketika kita tanpa malu membeli produk2 mereka.

walllahu alam bishawab


menanggapai kebijakan pemajuan jam sekolah

adnan mubarak, jakarta 9 muharram 1430 h

jujur, gw gak setuju sama pemda mengenai kebijakan pemajuan jam sekolah, kesannya asal dan ga melihat realita di masyarakat itu sendiri.

kmaren ketika sosialisasi ttg pemajuan diadain di dikmenti, pak prijanto (wagub) dateng, dan ngejelasin alasan utama mengenai pemajuan jam tersebut sebenarnya untuk mengurangi kemacetan di jakarta itu sendiri.

katanya ketika hari2 masuk sekolah, jalanan macet, dan ketika hari2 liburan sekolah jalanan gak macet, dengan logika yang sempit itu ia mencetuskan bahwa penggunaan jalan oleh pelajar mesti di majukan lebih pagi.

ada bbrapa orng yang brtanya ma wagub pada saat itu, termasuk gw, salah satu pertanyaan gw ialah ‘jika benar2 kebijakan ini sudah dirasa efektif, butuh berapa lama bagi kita melihat jalan dijakarta tidak macet?’

tau jawaban dari beliau, dia bilang tidak tahu, karena belum dicoba, sesuai dengan perkiraan gw, ini menandakan bahwa kebijakan ini dibuat tanpa perhitungan yang mendalam, jadi klo gw liat kemaren sih cuma bentuk pengkambinghitaman (wuih mbe!) pelajar atas permasalahan kemacetan jakarta, untuk menutupi kegagalan pemda dalam mengatasi kemacetan (soalnya kemaren beliau sih ngomongnya segala upaya selain ini telah di coba)

klo lw disana waktu itu, lw pasti ketawa coz selain gw ma jwr yng nanya siswa laen dari 78 juga nanya tapi klo gw denger sih lebih ke curhat, karena isinya gak jauh2 mengenai teman2 mereka yang gak sedikit naek kereta untuk ke skul ataupun yang jarak antara rmh mereka ma skul tuh 10-20 km (gile, niat tuh orang).

fyi aja di 13 pun ga sedikit yang begitu, bayangin berangkat masih gelap, gimana gak bahaya, baik segi keamanan, atau segi lalulintas, apalagi di jakarta

jadi lengkaplah pula penderitaan kita sebagai pelajar!(wuih lebay!)

yah apa mau dibilang, pas kemaren itu bukan rapat dengar pendapat pra pengesahan, tapi dah sampe tahap sosialisasi, jadi segala ucapan dari pelajar di sana tak berarti apa2.

wallahualam bishawab


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.